KITAINDONESIASATU.COM – Pengadilan wasiat di Nevada akan segera meninjau bukti dalam kasus yang akan menentukan siapa yang akan memimpin kerajaan media Rupert Murdoch setelah kematiannya.
Murdoch, yang kini berusia 93 tahun, hadir di pengadilan pada Senin, 16 September 2024, untuk mengikuti sidang.
Tahun lalu, ia mengajukan perubahan pada perwalian keluarganya dan memastikan putra sulungnya, Lachlan, tetap bertanggung jawab atas bisnis medianya, termasuk Wall Street Journal dan Fox News Channel.
Sidang pembuktian ini akan berlangsung hingga Selasa pekan depan. Sidang telah ditutup untuk publik, begitu pula sebagian besar dokumennya.
Beberapa organisasi berita, termasuk Associated Press, telah mengajukan permintaan akses yang ditolak oleh pengadilan.
Menurut Times, perwalian tersebut awalnya memberikan hak kontrol yang setara kepada empat anak tertua Murdoch setelah kematiannya.
Namun, Murdoch mengajukan perubahan untuk memastikan Lachlan mempertahankan kendali dan menjaga pandangan editorial konservatif di bisnis surat kabar dan jaringan TV miliknya.
Lachlan menjadi pimpinan News Corp pada November lalu dan juga menjabat sebagai eksekutif di Fox Corp, yang mencakup Fox News, jaringan siaran, olahraga, dan stasiun TV lokal.
Kerajaan media Murdoch ini tersebar di berbagai negara dan memiliki pengaruh besar dalam politik Amerika.
Perubahan perwalian ini memicu pertentangan dari tiga anak Murdoch lainnya, –James, Elisabeth, dan Prudence– yang menentang upaya ayah mereka untuk merevisi perwalian tersebut.
Perwalian yang tidak dapat dibatalkan biasanya digunakan untuk menghindari pajak warisan dan hanya dapat diubah dengan persetujuan penerima manfaat atau melalui perintah pengadilan.
Komisaris wasiat di Nevada, Edmund J. Gorman, memutuskan pada musim panas ini bahwa Murdoch dapat mengubah perwalian jika ia dapat membuktikan bahwa tindakannya dilakukan dengan niat baik dan untuk kepentingan ahli warisnya.
Murdoch beralasan bahwa perubahan ini diperlukan agar Lachlan memiliki kendali penuh, mengingat kekhawatirannya bahwa perbedaan pendapat di antara anak-anaknya bisa memengaruhi arah strategis perusahaan, termasuk potensi perubahan dalam kebijakan editorial dan konten.- ***
Sumber: The Guardian

