KITAINDONESIASATU.COM – Sengketa terkait empat pulau di Aceh Singkil yang dipindahkan ke wilayah administratif Sumatera Utara oleh Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian terus menjadi sorotan publik. Isu ini bahkan memicu reaksi keras, termasuk dari kelompok Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang sempat menggelar aksi protes.
Tak hanya itu, sejumlah tokoh nasional juga angkat bicara, salah satunya anggota DPR Rieke Diah Pitaloka. Perhatian terhadap konflik ini semakin tajam usai beredar kabar adanya dugaan kapal induk milik Amerika Serikat melintas di Laut Aceh. Informasi tersebut dibagikan Rieke melalui akun Twitter @riekediahp pada 20 Juni 2025, lengkap dengan unggahan video berdurasi 57 detik yang memperlihatkan kapal induk besar USS Nimitz CVN-68.
“Jika benar dugaan kapal induk Amerika Serikat USS Nimitz CVN-68 melintas laut Aceh, yang diduga menuju Teluk Persia,” ungkap Rieke sembari menyoroti empat poin penting terkait situasi yang berkembang:
Keberadaan 4 pulau Aceh dan pulau-pulau kecil lain adalah bagian dari perairan Indonesia yang menyangkut isu kedaulatan, pertahanan, dan keamanan.
Penyelamatan pulau bukan semata untuk pembangunan resort atau eksploitasi tambang oleh oligarki.
Gugus pulau Indonesia memiliki nilai strategis dalam konteks geopolitik dan geoekonomi global.
Perlu adanya perspektif geostrategi dalam mengelola pulau-pulau ini, sejalan dengan posisi Indonesia sebagai negara maritim.
Pernyataan Rieke itu semakin mempertegas urgensi perlindungan kedaulatan maritim di tengah gejolak politik wilayah dan aktivitas asing yang mencurigakan di sekitar laut Aceh.


