News

Ketidakpastian Diplomasi: Ukraina Negosiasi dengan AS, Eropa Terpinggirkan

×

Ketidakpastian Diplomasi: Ukraina Negosiasi dengan AS, Eropa Terpinggirkan

Sebarkan artikel ini
FotoJet 8 14
Dari kanan: Keith Kellogg, wakil presiden AS, JD Vance, dan menteri luar negeri, Marco Rubio, dalam pertemuan dengan Volodymyr Zelenskyy. (Foto: Matthias Schräder/AP)

KITAINDONESIASATU.COM – Utusan khusus Donald Trump untuk Ukraina, Keith Kellogg, mengungkapkan bahwa perundingan perdamaian yang direncanakan antara Rusia, AS, dan Ukraina tidak akan melibatkan Eropa.

Ia menegaskan bahwa meskipun Eropa akan diajak berdiskusi, mereka tidak akan memiliki peran dalam negosiasi utama.

Saat ditanya mengenai keterlibatan Eropa, Kellogg menyatakan bahwa realitas politik membuat kehadiran negara-negara Eropa dalam pembicaraan ini tidak memungkinkan.

“Ini mungkin seperti kapur di papan tulis, mungkin sedikit menyakitkan, tetapi saya mengatakan sesuatu yang sangat jujur,” katanya pada hari Sabtu, 15 Februari 2025.

Pernyataan ini menimbulkan kekhawatiran bagi beberapa pemimpin Eropa yang tidak mempercayai Trump dan merasa keamanan mereka sangat bergantung pada Ukraina.

Menteri Luar Negeri Polandia, Radosław Sikorski, mengatakan bahwa Presiden Prancis Emmanuel Macron telah mengundang para pemimpin Eropa ke Paris untuk membahas situasi ini.

Kellogg mengkritik gagalnya negosiasi damai sebelumnya karena terlalu banyak pihak yang terlibat tanpa kapasitas untuk mengeksekusi kesepakatan.

Ia menegaskan bahwa AS tidak akan mengulang kesalahan tersebut.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, sebelumnya telah memperingatkan bahwa Eropa kemungkinan akan disingkirkan dari negosiasi.

Ia mendesak negara-negara Eropa untuk mengambil peran aktif dengan membentuk angkatan bersenjata Eropa, di mana Ukraina akan menjadi bagian utama.

Para pemimpin Eropa semakin cemas setelah Wakil Presiden AS, JD Vance, menyampaikan pidato konfrontatif di Konferensi Keamanan Munich.

Mereka khawatir kesepakatan damai yang dibuat akan menguntungkan AS tetapi berdampak buruk bagi keamanan Ukraina dan Eropa dalam jangka panjang.

Perdana Menteri Polandia, Donald Tusk, memperingatkan bahwa Eropa harus segera merancang strategi pertahanan sendiri, atau masa depan mereka akan ditentukan oleh kekuatan global lain yang belum tentu sejalan dengan kepentingan mereka.

Zelenskyy, dalam upayanya memastikan keterlibatan Eropa, menegaskan bahwa tidak boleh ada kesepakatan tentang Ukraina tanpa kehadiran Ukraina, begitu pula tidak boleh ada kesepakatan mengenai Eropa tanpa Eropa.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, meminta Eropa untuk tetap berinteraksi dengan Trump dan tidak serta-merta menganggap AS akan meninggalkan mereka.

Ia menekankan pentingnya peningkatan anggaran pertahanan NATO dan mengusulkan target pengeluaran baru yang lebih ambisius dari 2% menjadi 3% PDB.

Di sisi lain, Wakil Perdana Menteri Ukraina untuk Eropa, Olha Stefanishyna, optimistis bahwa AS serius ingin mengakhiri perang dengan cara yang adil dan mencegahnya terjadi kembali.

Namun, Zelenskyy tetap waspada terhadap tawaran AS yang ingin menguasai 50% sumber daya mineral Ukraina sebagai imbalan atas dukungan keamanan.

Zelenskyy menolak tawaran tersebut karena tidak disertai jaminan perlindungan keamanan dari AS.
Saat ini, Ukraina masih terus bernegosiasi dengan Washington untuk memastikan dukungan jangka panjang terhadap negaranya di tengah ancaman dari Rusia.- ***

Sumber: The Guardian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *