News

Keteguhan Hati di Jalan Allah, Perjuangan Sumayyah binti Khayyat

×

Keteguhan Hati di Jalan Allah, Perjuangan Sumayyah binti Khayyat

Sebarkan artikel ini
FotoJet 2 25
Ilustrasi muslimah

KITAINDONESIASATU.COM – Sumayyah binti Khayyat, seorang hamba sahaya milik Abu Hudzaifah bin Mughirah, menikah dengan Yasir, seorang pendatang yang memutuskan tinggal di Makkah.

Kehidupan Sumayyah tidak mudah karena posisinya sebagai hamba sahaya di tengah aturan keras masa jahiliyah.

Begitu pula dengan Yasir, yang hidup sebagai pendatang miskin di bawah perlindungan Bani Makhzum. Dari pernikahan mereka, lahir dua anak, Ammar dan Ubaidullah.

Ketika Ammar beranjak dewasa, ia mendengar dakwah Rasulullah SAW.
Dakwah tersebut menarik hatinya karena selaras dengan fitrah manusia: penghambaan hanya kepada Allah SWT.

Setelah memahami dan menerima ajaran Islam, Ammar pulang sebagai seorang Muslim dan mengajak kedua orang tuanya serta adiknya untuk memeluk agama ini.
Dengan penuh kebahagiaan, seluruh keluarga Sumayyah menerima Islam, menjadikannya orang ketujuh yang masuk Islam pada masa awal dakwah Nabi.

Namun, keputusan keluarga ini memeluk Islam menimbulkan amarah kaum Quraisy, terutama Bani Makhzum.

Mereka menangkap dan menyiksa keluarga Yasir dengan kejam agar mereka meninggalkan Islam.

Keluarga ini dipaksa keluar ke padang pasir yang panas, ditimbun pasir membara, bahkan Sumayyah disiksa dengan batu besar yang diletakkan di dadanya.

Meski demikian, Sumayyah tetap tegar dan hanya mengucapkan, “Ahad… Ahad,” sebagai bukti keteguhannya pada tauhid.

Rasulullah SAW menyaksikan penderitaan mereka dan berkata, “Bersabarlah, wahai keluarga Yasir, karena tempat kembali kalian adalah surga”.

Kata-kata ini semakin menguatkan hati Sumayyah. Dengan keberanian luar biasa, ia terus menyatakan imannya hingga seorang penyiksa Quraisy menusukkan tombak ke tubuhnya.

Sumayyah wafat sebagai syuhada, wanita pertama yang gugur dalam membela Islam.
Keimanannya tak pernah goyah, bahkan di tengah siksaan yang paling kejam.

Bersama Yasir, ia memilih surga yang dijanjikan Allah SWT, meninggalkan teladan keteguhan iman yang abadi.- ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *