J menjelaskan, ia dan teman-temannya protes karena mempertanyakan anggaran yang seharusnya dapat digunakan untuk 15 kegiatan ekstrakurikuler.
Sebab, meski siswa diminta uang SPP sebesar Rp 250.000, pihak sekolah tidak mau mengeluarkan anggaran kegiatan.
Tak hanya itu, pelatih di masing-masing ekstrakurikuler juga disebut tidak menerima upah.
Mereka yang mengikuti kegiatan ekstrakulikuler pun terpaksa mengeluarkan uang lebih untuk membayar upah pelatih.
“Kami (siswa yang ikut ekstrakulikuler) putar otak, entah nombok pakai uang sendiri atau urunan supaya bisa bayar gaji pelatih,” tutur J. (Joy Andre/aps)

