KITAINDONESIASATU.COM – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus mengidentifikasi lapangan gas yang mempunyai potensi kandungan campuran Propane (C3) dan Butane (C4). Upaya itu dilakukan karena keduanya merupakan bahan baku dalam pembuatan Liquefied Petroleum Gas (LPG).
Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana mengatakan, rencana pengembangan lapangan gas yang mempunyai kandungan campuran Propana (C3) dan Butana (C4) bertujuan untuk mengurangi ketergantungan impor LPG yang cukup besar.
“Kita sedang berjalan itu termasuk yang kita bahas bersama Pak Menteri, kita matangkan, untuk nantinya itu arahnya ke LPG,” kata Dadan, yang dikutip Jumat (25/10).
Menurut Dadan, dari kebutuhan LPG nasional sebesar 8,3 juta ton, kemampuan produksi dalam negeri hanya sebesar 1,9 juta ton. Karena itu, pemerintah mendorong pengembangan hilirisasi LPG di dalam negeri agar dapat digencarkan. “Kita impornya sangat besar, produksinya hanya 1,9 juta ton, sementara konsumsinya 8,3 juta ton,” ujarnya.
Menurut Dadan, potensi C3 dan C4 di Indonesia sejatinya dapat diambil langsung dari lapangan gas. Namun, LPG juga bisa dihasilkan sebagai produk sampingan dari proses pengilangan.
“Ada potensi C3-C4, propana sama butana kan itu, LPG namanya tinggal kita ambil dari gas alam, paling simpelnya. Memang LPG ada produk juga bagian dari hasil kilang, dari kilang gitu. Itu kita rapatkan pak menteri matangkan,” katanya.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan bahwa Indonesia masih bisa meningkatkan produksi Liquefied Petroleum Gas (LPG) di dalam negeri dan bisa menjadi upaya untuk menekan impor LPG.
Bahlil bilang, Indonesia masih memiliki potensi sumber LPG yakni dari jenis gas C3 (Propana) dan C4 (Butana) hingga 2 juta ton per tahun untuk bisa mendongkrak produksi LPG dalam negeri. “Setelah saya deteksi lagi, ternyata masih ada kurang lebih sekitar 2 juta (ton) dari informasi dari SKK Migas yang bisa dikonversi menjadi LPG,” jelas Bahlil. (*)



