Pada Nataru 2025–2026, ribuan masjid tersebut akan memberikan layanan istirahat bagi pemudik dan musafir. Menag pun mengimbau para pengelola masjid untuk menghadirkan pelayanan terbaik, bahkan menyediakan minuman hangat demi keselamatan pengguna jalan.
“Masjid sebagai tempat singgah terbukti mampu menurunkan angka kecelakaan hingga 50 persen pada musim mudik sebelumnya,” ungkapnya.
Dirjen Bimas Islam, Abu Rokhmad menambahkan, akhir tahun memiliki dimensi keagamaan sekaligus sosial. Perayaan Natal, libur sekolah, dan libur Tahun Baru menjadikan mobilitas masyarakat meningkat dan membutuhkan ruang aman yang bisa diakses bersama.
“Mudik dan liburan adalah fenomena sosial. Ketika masjid dibuka untuk musafir, itu adalah praktik keagamaan yang luhur,” katanya.
Ia menegaskan, program ini akan terus disempurnakan, termasuk untuk menyambut arus mudik Idulfitri mendatang.
“Kerukunan tidak cukup diucapkan, tetapi harus dihadirkan dalam aksi nyata,” ucapnya.
Sementara itu, Arsad Hidayat menjelaskan bahwa kick-off Masjid Ramah Pemudik Nataru merupakan implementasi perdana di akhir tahun, meski konsepnya telah berjalan saat mudik Lebaran.
“Masjid Ramah Pemudik menegaskan Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Masjid melayani semua warga, termasuk nonmuslim,” ujarnya.
Konsep ini menjadi bagian dari kebijakan masjid ramah Kemenag, mulai dari ramah lansia, anak, perbedaan, lingkungan, hingga peran masjid sebagai ruang solusi persoalan sosial.
“Kehadiran masjid sebagai tempat istirahat yang bersih, aman, dan nyaman adalah faktor penting dalam menekan risiko kecelakaan lalu lintas,” pungkasnya. (*)
