Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pusat massa otak astronot cenderung bergeser ke arah atas di dalam tengkorak setelah kembali dari luar angkasa. Perubahan ini bukan sekadar teoritis, tetapi terkonfirmasi melalui pencitraan otak sebelum dan sesudah penerbangan.
Indikasi perubahan otak juga diperkuat oleh studi berbasis darat pada 2015, yang menggunakan metode posisi tidur dengan kepala lebih rendah dari tubuh untuk mensimulasikan kondisi tanpa gravitasi. Studi tersebut menemukan adanya perubahan ukuran dan posisi area tertentu di otak.
Melalui pengukuran presisi tinggi, tim Seidler mendapati bahwa otak tidak hanya bergerak ke atas, tetapi juga sedikit ke belakang dan berotasi secara halus di dalam tengkorak. Gerakan ini konsisten dengan temuan dari berbagai penelitian sebelumnya.
Yang lebih mengejutkan, perubahan tersebut tidak terjadi secara merata. Beberapa bagian otak bergerak ke arah yang berbeda-beda, menandakan bahwa bentuk otak itu sendiri mengalami penyesuaian.
Pada astronot yang menghabiskan waktu hingga satu tahun di luar angkasa, perubahan ini bisa mencapai 2 hingga 3 milimeter.
Selain itu, ventrikel otak—rongga berisi cairan—juga terdeteksi bergerak ke atas, memperkuat dugaan bahwa redistribusi cairan memainkan peran besar dalam perubahan struktur otak.

