KITAINDONESIASATU.COM – Jumlah korban tewas akibat kebakaran besar di Los Angeles kini mencapai 24 orang, sementara petugas pemadam kebakaran terus berjuang memadamkan api di berbagai lokasi.
Gubernur California, Gavin Newsom, menyebut kebakaran ini sebagai bencana alam paling parah dalam sejarah Amerika Serikat, mengingat dampaknya yang menghancurkan ribuan rumah dan memaksa lebih dari 100.000 orang mengungsi.
Kebakaran ini berpotensi menjadi yang terburuk dalam sejarah AS berdasarkan biaya kerusakan yang ditimbulkan.
Pemeriksa Medis Los Angeles County mengonfirmasi jumlah korban jiwa sebanyak 24 orang.
Sementara itu, lebih dari 12.000 bangunan dilaporkan rusak atau hancur, dengan api melalap lingkungan perumahan, termasuk kawasan elite dan permukiman biasa, meninggalkan kehancuran yang mengerikan.
“Kabupaten Los Angeles mengalami malam penuh teror dan kesedihan yang tak terbayangkan,” ujar Lindsey Horvath, Pengawas Kabupaten Los Angeles, seperti dilaporkan Reuters pada Senin (11/1/2025).
Upaya pemadaman melibatkan penggunaan air dan cairan kimia melalui udara, sementara petugas darat berusaha membendung kebakaran di Palisades yang mendekati wilayah elite Brentwood.
Hingga kini, kebakaran di sisi barat kota telah menghanguskan 23.713 hektar lahan, dengan pengendalian baru mencapai 11 persen. Di sisi timur, Kebakaran Eaton membakar 14.117 hektar lahan, dengan tingkat pengendalian meningkat menjadi 27 persen dari sebelumnya 15 persen.
Kebakaran Hurst di utara Los Angeles kini terkendali 89 persen, sementara tiga kebakaran lain di wilayah tersebut telah 100 persen dikendalikan. Meski begitu, beberapa area dalam garis kendali masih terbakar, menurut Cal Fire.
Pemerintah memperingatkan seluruh warga Los Angeles County, yang berjumlah hampir 10 juta orang, untuk bersiap jika perintah evakuasi dikeluarkan.
Hingga Minggu, lebih dari 100.000 orang telah dievakuasi, turun dari angka sebelumnya lebih dari 150.000. Sebanyak 87.000 lainnya masih berada dalam status peringatan evakuasi.
Kepala Pemadam Kebakaran Los Angeles County, Anthony Marrone, menjelaskan bahwa kombinasi angin kencang, rendahnya kelembaban, dan bahan bakar kering memperburuk ancaman kebakaran di wilayah tersebut.
Marrone juga memperingatkan bahwa area yang dievakuasi kemungkinan belum bisa dibuka kembali hingga peringatan bendera merah berakhir pada Kamis mendatang.- ***



