KITAINDONESIASATU.COM – Polda Sulawesi Selatan bersama jajarannya sedang menyelidiki dugaan keterlibatan seorang pengusaha asal Makassar berinisial ASS.
Ia diduga memfasilitasi produksi uang palsu di rumahnya di Kota Makassar dan memasukkannya ke Kampus UIN Alauddin di Gowa, Sulawesi Selatan.
Pengusaha tersebut diketahui pernah berniat mencalonkan diri dalam Pilkada.
Kapolda Sulsel, Irjen Pol Yudhiawan Wibisono, menjelaskan bahwa mesin pencetak uang palsu pertama kali ditemukan di Jalan Sunu, Makassar.
Seiring dengan meningkatnya permintaan, pelaku berinisial SAR kemudian mencari alat yang lebih besar dan lebih aman untuk mencetak uang palsu dalam jumlah besar.
Mesin cetak yang lebih besar akhirnya dibawa ke kampus, diduga bekerja sama dengan tersangka AI.
SAR sebelumnya memberikan uang palsu pecahan Rp100 ribu kepada AI, yang dikenal melalui ASS. Uang palsu tersebut diproduksi oleh SAR di rumahnya.
Selanjutnya, AI, yang menjabat sebagai Kepala Perpustakaan dan dosen di UIN Alauddin, mengizinkan SAR untuk mencetak uang palsu di perpustakaan kampus tanpa sepengetahuan pihak rektorat.
Mesin cetak yang berharga Rp600 juta, yang dibeli di Surabaya dan dipesan dari China, dimasukkan ke kampus pada awal September 2024.
Penyidikan mengungkapkan bahwa SAR sudah mulai memproduksi uang palsu sejak Juni 2010 atas suruhan ASS, yang pada saat itu berencana maju dalam Pilkada Wali Kota Makassar.
Meskipun gagal mencalonkan diri, ASS terus merencanakan pembuatan uang palsu hingga 2022. Sementara itu, AI juga sempat mengajukan diri untuk maju dalam Pilkada serentak 2024 sebagai calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Barru, namun tidak mendapat dukungan partai.- ***

