KITAINDONESIASATU.COM – Pemerintah didorong segera mencari alternatif sumber impor minyak setelah dua kargo minyak mentah dari Singapura batal dikirim ke Indonesia.
Insiden ini memicu kekhawatiran terkait ketahanan pasokan energi nasional di tengah ketidakpastian global.
Dewan Energi Nasional menilai Indonesia tidak bisa bergantung pada satu atau dua negara pemasok, terutama Singapura dan Malaysia.
Ketergantungan tersebut dinilai berisiko, terlebih pasokan migas dari Singapura sebagian besar berasal dari kawasan Timur Tengah yang terdampak gangguan distribusi, termasuk di Selat Hormuz.
Pembatalan terjadi saat kargo yang dibeli melalui mekanisme tender oleh PT Pertamina (Persero) sudah dalam perjalanan menuju Indonesia.
Namun, pengiriman tersebut mendadak dihentikan dan diminta kembali oleh pemasok.
Pemerintah Didorong Amankan Kontrak Minyak Jangka Panjang
Situasi ini mendorong pemerintah untuk memperkuat strategi pengadaan energi melalui kontrak jangka panjang dengan negara produsen minyak.
Skema kerja sama antarpemerintah dinilai dapat memberikan kepastian pasokan sekaligus harga yang lebih stabil dibandingkan pembelian di pasar spot.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral telah berkoordinasi dengan Pertamina untuk menyelesaikan persoalan tersebut.
Dua kargo minyak yang sempat dibatalkan dijadwalkan kembali dikirim ke Indonesia pada 18 Maret 2026.
Data menunjukkan Indonesia selama ini mengimpor minyak mentah dari berbagai negara seperti Nigeria, Angola, dan Arab Saudi.
Meski demikian, untuk bahan bakar minyak, impor masih didominasi dari Singapura dan Malaysia, sehingga diversifikasi sumber pasokan menjadi langkah strategis ke depan.(*)

