News

Israel Hadapi Krisis Ganda, Kerugian Militer dan Ekonomi Akibat Perang yang Berlarut

×

Israel Hadapi Krisis Ganda, Kerugian Militer dan Ekonomi Akibat Perang yang Berlarut

Sebarkan artikel ini
FotoJet 13
Biaya perang bebani ekonomi Israel

KITAINDONESIASATU.COM – Israel mengalami kerugian signifikan baik dalam hal sumber daya manusia, militer, maupun keuangan akibat agresi terhadap Gaza dan Lebanon.

Kerugian ini berpotensi merubah arah masa depan negara Zionis, terutama dengan adanya gelombang emigrasi besar-besaran dan kemampuan militer yang terbatas.

Seiring perang yang berlangsung di Gaza dan Lebanon memasuki bulan ke-15, Israel menghadapi tantangan serius, tidak hanya di medan perang tetapi juga di dalam negeri.

Menurut laporan Muhammad Dawood Al-Ali dan Muhammad Watad di Aljazirah Arabia, 600.000 warga Israel telah meninggalkan negara tersebut sejak Oktober 2023, menandakan gelombang emigrasi terbesar sejak Israel berdiri pada 1948.

Faktor-faktor seperti ketidakstabilan ekonomi, ketidakamanan, dan konflik militer membuat banyak warga Israel, terutama yang bekerja di sektor profesional dan akademik, memilih untuk pindah ke luar negeri. Kanada dan beberapa negara Eropa Timur menjadi tujuan utama.

Negara-negara tersebut, khususnya Kanada, melaporkan peningkatan permintaan visa kerja sebesar 500 persen dari warga Israel.

Eksodus ini tidak hanya berdampak pribadi bagi mereka yang pergi, namun juga menjadi tantangan serius bagi tujuan demografi Israel.

Helmy Moussa, pakar urusan Israel, mencatat bahwa migrasi ini menggoyahkan salah satu dasar Zionisme, yakni “mengumpulkan orang-orang buangan”.

Hal ini menantang cita-cita Israel untuk menjadi tempat perlindungan bagi orang Yahudi di seluruh dunia.

Sementara itu, militer Israel menghadapi tantangan besar dalam memenuhi kebutuhan peralatan tempur.

Dalam hal senjata lapis baja, Israel kesulitan memproduksi tank Merkava “Siman 4” karena kekurangan pasokan bahan baku dan masalah global seperti perang di Ukraina.

Sebagai solusi sementara, Israel harus menggunakan tank Merkava “Siman 3” yang sudah tua dan memperbaiki tank-tank lama yang seharusnya dibuang atau dijual ke negara-negara miskin.

Di sisi lain, Angkatan Udara Israel beroperasi dengan tekanan tinggi. Jet tempur lama seperti F-15 telah melebihi masa pakainya.

Laporan dari surat kabar Israel, Maariv, menyebutkan bahwa Israel menerima gencatan senjata dengan Hizbullah pada November 2024 sebagian untuk mengurangi tekanan terhadap angkatan udara dan mengisi kembali persediaan peralatan militernya.

Para analis militer berpendapat bahwa Israel perlu membeli lebih banyak jet tempur, tank, dan perangkat keras militer lainnya dari negara seperti Amerika Serikat dan Jerman.

Secara finansial, perang ini memberi beban berat pada ekonomi Israel. Biaya perang diperkirakan mencapai 29,1 miliar dolar AS dan bisa meningkat menjadi 70 miliar dolar AS pada tahun 2025.

Ini mencakup biaya untuk belanja militer, senjata, serta pemulihan pasca-konflik.

Sektor pariwisata Israel juga terpukul keras, dengan kerugian sekitar 5,2 miliar dolar AS dari pariwisata internasional dan 210 juta dolar AS dari pariwisata domestik.

Gangguan pada sektor perdagangan dan infrastruktur juga semakin memperburuk situasi ekonomi Israel.

Selain itu, Israel juga kehilangan sekitar 55.000 hektar hutan dan lahan terbuka di wilayah utara dan Dataran Tinggi Golan, yang meskipun tidak langsung terkait dengan operasi militer, menambah kerugian ekonomi yang lebih luas akibat perang.- ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *