News

Israel Bombardir Lebanon Selatan di Tengah Upaya Gencatan Senjata

×

Israel Bombardir Lebanon Selatan di Tengah Upaya Gencatan Senjata

Sebarkan artikel ini
FotoJet 7 1
Ilustrasi serangan Israel.

KITAINDONESIASATU.COM – Israel kembali meluncurkan serangan udara di pinggiran Selatan Beirut pada Kamis malam, menargetkan bangunan dekat Masjid Al Qaem usai mengeluarkan peringatan evakuasi.

Tak berhenti di situ, Israel dilaporkan meluncurkan lima serangan tambahan, salah satunya menyebabkan ledakan besar dan asap tebal yang membubung ke udara. Namun, lokasi spesifik dari serangan tersebut tidak disebutkan secara resmi.

Setelah rentetan serangan itu, militer Israel kembali mengeluarkan peringatan evakuasi kepada warga di wilayah Nabatieh, Lebanon selatan. Dalam pernyataan resminya, Israel meminta warga menjauh sejauh 500 meter dari beberapa bangunan di desa Ain Qana, yang diklaim sebagai lokasi milik kelompok Hizbullah. Peringatan itu turut disertai dengan peta target serangan yang dirilis secara terbuka.

Baca Juga  Serangan Udara Israel di Gaza Tewaskan 50 Orang, Gencatan Senjata Masih Jauh dari Kata Sepakat

Sebelumnya, peringatan serupa juga disampaikan kepada penduduk di wilayah Hadath, Haret Hreik, dan Borj al-Barajneh (tiga kawasan padat penduduk di pinggiran Beirut), sebelum serangan udara dilakukan.

Serangan terbaru ini menjadi yang keempat kalinya dilakukan Israel di wilayah tersebut sejak gencatan senjata diberlakukan pada 27 November 2024. Meski ada kesepakatan damai, Israel terus melancarkan serangan hampir setiap hari ke wilayah Lebanon selatan dengan dalih menumpas kekuatan Hizbullah.

Pemerintah Lebanon mencatat telah terjadi hampir 3.000 pelanggaran gencatan senjata oleh Israel, yang mengakibatkan sedikitnya 208 korban jiwa dan lebih dari 500 orang terluka.

Baca Juga  Tiga Wartawan Tewas Akibat Serangan Udara Israel

Berdasarkan perjanjian damai yang disepakati, Israel seharusnya menarik seluruh pasukannya dari Lebanon selatan paling lambat 26 Januari 2025. Namun, tenggat tersebut diperpanjang hingga 18 Februari karena penolakan Israel untuk mematuhi kesepakatan. Hingga kini, Israel masih mempertahankan keberadaan militernya di lima pos perbatasan strategis. (Sumber: Anadolu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *