Berita UtamaNews

Isi Lengkap Pidato Perdana Prabowo Subianto sebagai Presiden Republik Indonesia ke-8, Singgung Pemimpin yang Suka Caci Maki

×

Isi Lengkap Pidato Perdana Prabowo Subianto sebagai Presiden Republik Indonesia ke-8, Singgung Pemimpin yang Suka Caci Maki

Sebarkan artikel ini
Isi Lengkap Pidato Perdana Prabowo Subianto sebagai Presiden Republik Indonesia ke-8, Singgung Pemimpin yang Suka Caci Maki
Isi Lengkap Pidato Perdana Prabowo Subianto sebagai Presiden Republik Indonesia ke-8, Singgung Pemimpin yang Suka Caci Maki

Kita menjadi bangsa yang harus berterima kasih kepada generasi pembebas, kepada Bung Karno, Bung Hatta, dan pahlawan-pahlawan lain, seperti I Gusti Ngurah Rai, Kapitan Pattimura, Sultan Hasanuddin, dan Teuku Umar. Semua pahlawan ini tidak bisa kita sebut satu per satu, tetapi mereka yang telah membayar harga kemerdekaan dengan darah dan air mata mereka. Kita bersyukur kepada presiden dan proklamator pertama, Bung Karno, yang telah memberikan kepada kita ideologi negara Pancasila. Beliau telah keluar masuk penjara, dibuang di mana-mana sejak muda karena memperjuangkan Indonesia merdeka. Indonesia tidak mau menjadi darah bagi bangsa-bangsa lain.

Soekarno, Hatta, dan Syahrir, semua pendiri bangsa ini, berkorban dan telah memimpin kita dengan baik. Kita juga bersyukur kepada Presiden Soeharto yang banyak jasanya dalam menyelamatkan dan mengamankan ideologi Pancasila itu sendiri, yang telah meletakkan dasar bagi Indonesia yang modern. Kita berterima kasih kepada Presiden Habibie yang telah membuat dasar untuk kita meraih dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Kita juga berterima kasih kepada Presiden Abdurrahman Wahid yang telah memberikan contoh toleransi antaragama dan antarsuku, menjunjung tinggi inklusivitas Indonesia yang inklusif dan toleran.

Kita berterima kasih kepada Presiden Megawati yang menyelesaikan masalah-masalah ekonomi akibat krisis tahun ’98. Harus diakui, di bawah pemerintahan Megawati, masalah perusahaan-perusahaan yang banyak hancur dapat diperbaiki dan diselamatkan. Kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang menghadapi krisis sangat berat akibat tsunami, menyelesaikan permasalahan bersama Wakil Presiden Yusuf Kalla, serta menyelesaikan konflik di Aceh yang sudah berlangsung begitu lama. Ini adalah prestasi yang harus kita akui.

Saudara-saudara sekalian, mereka semua, dengan cara masing-masing, memiliki kontribusi terhadap apa yang sekarang kita nikmati: negara kesatuan yang utuh, yang berdaulat, yang merdeka, dan yang terus menjaga serta berjuang untuk kemerdekaan dan keadilan.

Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden, terima kasih atas pengakuan negara. Bapak telah mengantarkan bangsa ini melalui krisis-krisis yang sungguh sangat berat. Jangan kita lupakan saat hari ini; ingat waktu COVID-19, kita bahkan keluar rumah pun takut. Saya saksi, saya menteri, dan beliau bersama semua pihak, baik dalam maupun luar negeri, terus memikirkan bagaimana nasib wong cilik, bagaimana nasib warung Tegal, bagaimana nasib ojol, serta bagaimana rakyat-rakyat yang bergantung pada upah harian.

Jangan kita lupa, pemimpin-pemimpin kita, terima kasih Pak Jokowi, terima kasih. Anda telah berjasa dan akan dikenang sebagai putra Indonesia yang terbaik.

Saudara-saudara sekalian, akhir kata, saya mohon doa restu dari saudara-saudara. Mari kita bangun Indonesia di atas landasan yang sudah dirintis oleh pendahulu-pendahulu kita. Mari kita belajar dari semua kekurangan, kita akui dan kita perbaiki. Hentikan dendam, hilangkan kebencian, bangun kerukunan, dan bangun gotong royong. Itu adalah kepribadian bangsa Indonesia; itu adalah ajaran Bung Karno sendiri.

Saudara-saudara sekalian, kami siap melanjutkan estafet kepemimpinan. Kita siap bekerja keras menuju Indonesia yang menjadi bangsa yang kuat, merdeka, berdaulat, adil, dan makmur. Kita tidak mau mengganggu siapapun, kita tidak mau mengganggu bangsa lain, tetapi kita juga tidak akan mengizinkan bangsa manapun untuk mengganggu kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *