Saudara-saudara sekalian, kita semua percaya dan yakin bahwa kita akan memiliki kekuatan untuk bisa menghilangkan kemiskinan dari bumi Indonesia. Bahkan, banyak yang mengatakan bahwa ini sesuatu yang tidak mungkin. Saudara-saudara, pemimpin yang berani, pemimpin yang baik, akan terpanggil untuk menghadapi yang tidak mungkin dan mencari jalan agar yang tidak mungkin dapat kita atasi.
Bangsa yang berani adalah bangsa yang bisa mengubah yang tidak mungkin menjadi mungkin. Saudara-saudara, di tengah cita-cita yang begitu besar dan kita idam-idamkan, kita perlu suasana kebersamaan. Kita perlu suasana persatuan. Kita perlu kolaborasi dan kerja sama, bukan cekcok yang berkepanjangan. Kita perlu pemimpin-pemimpin yang tidak caci maki, pemimpin-pemimpin yang arif dan bijaksana, yang mengerti dan mencintai budaya serta sejarah bangsa sendiri, yang bangga dengan adat, tradisi, dan budaya kita.
Sejak dahulu, kita ingin menjadi bangsa yang berdemokrasi. Kita menempatkan kedaulatan rakyat setinggi-tingginya dalam dasar negara kita, Pancasila. Kerakyatan merupakan sendi utama dari kelima sila yang kita junjung tinggi, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam perwakilan. Kita menghidupi kehidupan demokrasi. Namun, marilah kita sadar bahwa demokrasi kita haruslah demokrasi yang khas untuk Indonesia, demokrasi yang cocok untuk bangsa kita, demokrasi yang berasal dari sejarah dan budaya kita. Demokrasi kita haruslah demokrasi yang santun, Di mana mengoreksi harus tanpa caci maki, bertarung tanpa membenci, dan bertanding tanpa berbuat curang. Demokrasi kita harus menghindari kebencian. Demokrasi kita haruslah demokrasi yang sejuk, demokrasi yang damai, demokrasi yang menghindari kemunafikan. Persatuan dan kerja sama akan membawa kita mencapai cita-cita para leluhur bangsa kita: raharjo, bangsa di mana rakyat cukup tangan, cukup standar, dan cukup papan. Kita adalah bangsa yang melihat wong cilik bisa senyum dan bisa ketawa.
Saudara-saudara sekalian, kita harus ingat bahwa kekuasaan itu adalah milik rakyat. Kita berkuasa, dan kita menjalankan kekuasaan harus untuk kepentingan rakyat.
Setiap pemimpin, dalam setiap tingkatan, harus selalu ingat bahwa pekerjaan kita harus untuk rakyat.
Kita harus ingat bahwa kekuasaan itu adalah milik rakyat. Kedaulatan itu adalah kedaulatan rakyat. Kita berkuasa, dan kita menjalankan kekuasaan harus untuk kepentingan rakyat. Siapa pemimpin? Pekerjaan kita harus untuk rakyat, bukan kita bekerja untuk kerabat kita, bukan kita bekerja untuk pemimpin-pemimpin kita. Pemimpin-pemimpin yang harus bekerja untuk rakyat.
Kita harus mengerti, selalu sadar, selalu bahwa bangsa yang merdeka adalah bangsa di mana rakyatnya merdeka: bebas dari kemiskinan, bebas dari ketakutan, bebas dari penindasan, dan bebas dari penderitaan.
Saudara-saudara sekalian, masih ada saudara-saudara kita yang usianya di atas 70 tahun, masih tinggal di desa. Ini bukanlah ciri-ciri bangsa yang merdeka. Hanya kalau kita bisa mewujudkan keadaan di mana rakyat kita sungguh-sungguh merasa dan menikmati kemerdekaan, baru kita boleh benar-benar puas dan bangga dengan prestasi Indonesia merdeka.



