KITAINDONESIASATU.COM – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump melontarkan ancaman keras kepada Iran agar membuka penuh Selat Hormuz dalam 48 jam, atau bersiap menghadapi serangan besar-besaran.
Dalam pernyataan yang disebarkan melalui media sosial Gedung Putih dan platform X, Trump menegaskan bahwa jika Iran tidak segera membuka jalur vital tersebut tanpa syarat, maka AS akan langsung menghantam infrastruktur vital—dimulai dari pembangkit listrik terbesar milik Iran.
Ultimatum ini muncul di tengah eskalasi konflik yang sudah memakan korban besar. Sebelumnya, pada 28 Februari, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan gabungan ke Teheran dan sejumlah kota penting di Iran.
Serangan itu dilaporkan menewaskan tokoh penting Iran, termasuk Ali Khamenei, serta sejumlah komandan militer senior dan ribuan warga sipil.
Tak tinggal diam, Iran langsung membalas dengan gelombang serangan rudal dan drone yang menyasar wilayah Israel serta pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah.
Situasi makin genting ketika Iran mengambil langkah membatasi perlintasan di Selat Hormuz—jalur strategis dunia untuk distribusi energi global—dengan alasan keamanan di tengah gempuran militer yang mereka hadapi.
Kini, dunia menahan napas. Ancaman terbaru dari Trump membuka potensi konflik berskala lebih luas yang bisa mengguncang stabilitas global, terutama jika serangan terhadap infrastruktur vital benar-benar terjadi. (*)



