KITAINDONESIASATU.COM – Ketegangan di Timur Tengah makin memanas. Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, dikabarkan akan melanjutkan operasi militer terhadap Iran setidaknya selama tiga hingga empat pekan ke depan sebelum menentukan langkah berikutnya. Informasi ini diungkap media Axios yang mengutip sumber internal terkait strategi Washington.
Menurut laporan tersebut, fase berikutnya dari operasi militer itu akan difokuskan pada tekanan berkelanjutan terhadap Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC)—pasukan elite Iran yang menjadi tulang punggung kekuatan militer negara tersebut. Tujuannya disebut-sebut untuk melemahkan IRGC hingga memicu potensi pemberontakan dari dalam negeri Iran sendiri.
Sumber yang dikutip Axios bahkan menyebut kemungkinan skenario munculnya pembangkangan dari unit militer Iran atau bahkan jatuhnya sebuah kota akibat gejolak internal.
“Akan ada upaya untuk melepaskan kekuatan dari dalam Iran,” ujar sumber tersebut, menggambarkan strategi tekanan yang diyakini dapat mengguncang stabilitas Teheran.
Konflik ini sendiri memanas sejak 28 Februari, ketika Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di wilayah Iran. Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan besar serta korban sipil.
Tak tinggal diam, Iran langsung melakukan serangan balasan dengan menargetkan wilayah Israel serta fasilitas militer Amerika di kawasan Timur Tengah. Situasi pun berubah menjadi eskalasi militer yang memicu kekhawatiran luas di dunia internasional.
Washington dan Tel Aviv awalnya berdalih operasi militer itu dilakukan untuk menahan ancaman dari program nuklir Iran. Namun belakangan, keduanya secara terbuka menyebut tujuan mendorong perubahan kekuasaan di Teheran.
Di tengah meningkatnya ketegangan, Presiden Vladimir Putin dari Rusia mengecam keras operasi militer tersebut. Ia menyebut tindakan itu sebagai pelanggaran sinis terhadap hukum internasional. Sementara Ministry of Foreign Affairs of Russia juga mengutuk operasi gabungan AS–Israel dan menyerukan deeskalasi segera serta penghentian permusuhan. (Sumber: Sputnik)


