KITAINDONESIASATU.COM – Ketegangan geopolitik dunia kembali memanas. Pejabat tinggi Iran melontarkan peringatan keras kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, setelah eskalasi konflik militer yang mengguncang kawasan Timur Tengah.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, menegaskan bahwa Iran tidak akan tinggal diam menghadapi serangan yang disebutnya sebagai agresi terhadap Republik Islam tersebut.
Melalui pernyataan di platform media sosial X, Larijani menyindir keras Trump yang sebelumnya mengklaim ingin meraih kemenangan cepat dalam konflik tersebut.
“Trump mengatakan dia menginginkan kemenangan cepat. Memulai perang memang mudah, tetapi perang tidak bisa dimenangkan hanya dengan beberapa cuitan,” tulis Larijani dengan nada tajam.
Ia bahkan memperingatkan bahwa Iran tidak akan berhenti sampai Amerika Serikat menyesali kesalahan perhitungan serius dalam memicu konflik ini.
Pernyataan tersebut muncul setelah Trump sehari sebelumnya menyebut Iran hampir berada di ujung jalan. Ia bahkan melontarkan ancaman untuk melumpuhkan kapasitas listrik Iran hanya dalam waktu satu jam, meskipun berharap langkah ekstrem itu tidak perlu dilakukan.
Ketegangan meningkat sejak operasi militer gabungan yang dilancarkan oleh United States dan Israel pada 28 Februari lalu terhadap target di Iran.
Serangan tersebut memicu balasan dari Teheran yang menargetkan wilayah Israel serta sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Hari pertama operasi militer itu disebut-sebut menimbulkan korban besar. Laporan menyebutkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, gugur dalam serangan tersebut. Selain itu, sebuah sekolah perempuan di wilayah selatan Iran juga dilaporkan terkena dampak serangan hingga menewaskan hampir 200 siswi.
Secara keseluruhan, otoritas Iran memperkirakan korban tewas akibat konflik berdarah ini telah melampaui 1.200 orang, memicu kekhawatiran dunia internasional akan meluasnya perang di kawasan.
Situasi ini pun membuat hubungan antara Washington dan Teheran kembali berada di titik paling panas dalam beberapa tahun terakhir, dengan ancaman balasan yang terus dilontarkan dari kedua pihak. (Sumber: Sputnik)

