KITAINDONESIASATU.COM – Harga minyak dunia mengalami penurunan pada awal pekan ini setelah sebelumnya sempat menembus level USD 100 per barel.
Pelemahan terjadi di tengah meningkatnya tekanan geopolitik serta upaya stabilisasi distribusi energi global.
Pada perdagangan Senin, harga minyak mentah Brent tercatat turun 2,84 persen menjadi USD 100,21 per barel.
Sementara itu, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) dari Amerika Serikat merosot lebih dalam sebesar 5,28 persen ke level USD 93,50 per barel. Padahal dalam sesi yang sama, harga WTI sempat melampaui angka USD 100 per barel.
Kenaikan harga sebelumnya dipicu oleh konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang mengganggu jalur distribusi energi global, terutama di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital pengiriman minyak dunia.
Tekanan Geopolitik dan Stabilitas Pasokan Minyak
Penurunan harga terjadi setelah Presiden Donald Trump mendorong negara sekutu untuk ikut menjaga keamanan jalur tanker di Selat Hormuz.
Di sisi lain, pemerintah AS masih mengizinkan kapal tanker Iran melintas guna menjaga pasokan energi global tetap stabil.
Meski terkoreksi, harga minyak masih berada di level tinggi setelah melonjak sekitar 40 persen sejak konflik memanas.
Ketegangan juga meningkat menyusul serangan militer AS terhadap Pulau Kharg yang merupakan pusat ekspor minyak utama Iran.
Ancaman terhadap infrastruktur energi Iran berpotensi memperburuk krisis pasokan global.
Selat Hormuz sendiri diketahui menyalurkan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, sehingga gangguan di kawasan tersebut dapat berdampak luas terhadap harga energi internasional.(*)




