Namun, dinamika di lapangan tetap kompleks. Proposal Iran ini disampaikan melalui Pakistan yang bertindak sebagai mediator, setelah Teheran menolak mentah-mentah proposal 15 poin versi Washington pada 24 Maret lalu.
Menariknya, Iran mengusulkan skema unik terkait Selat Hormuz. Sebagai ganti membuka blokade, Teheran berencana mengenakan “biaya transit” sekitar US$2 juta per kapal.
Pendapatan dari biaya ini akan dibagi dengan Oman, negara di seberang selat. Bagian Iran akan dialokasikan khusus untuk rehabilitasi infrastruktur yang hancur akibat serangan, alih-alih meminta kompensasi tunai langsung.
Ultimatum dan Jalur Diplomasi
Di balik layar, negosiasi tetap berjalan alot. Trump sempat memberikan tenggat waktu hingga Selasa pukul 20.00 waktu Washington, mengancam akan menargetkan jembatan dan pembangkit listrik jika Selat Hormuz tidak dibuka.
Namun, laporan juga menyebutkan Trump menolak proposal gencatan senjata 45 hari yang diajukan Pakistan, Mesir, dan Turki, menunjukkan masih adanya kesenjangan signifikan antara kedua pihak.
Bagi Indonesia, stabilitas Selat Hormuz adalah isu krusial. Sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati jalur ini. Gangguan berkepanjangan berpotensi mendongkrak harga energi global dan membebani APBN melalui subsidi BBM.
