Dr. Candice Bedford, geolog dari Universitas Purdue sekaligus operator instrumen Perseverance, menulis bahwa kombinasi kedua unsur tersebut biasanya ditemukan pada meteorit logam yang terbentuk di inti asteroid besar. Indikasinya jelas: batu ini kemungkinan besar berasal dari bagian lain tata surya.
Sejak mendarat pada Februari 2021, Perseverance telah menelusuri kawasan geologi Jezero bagian utara, wilayah yang dianggap sangat penting karena kemungkinan besar pernah terisi air di masa lalu.
Perjalanan terbaru rover ini membawanya ke area yang disebut Vernonden, yang berada di atas bibir kawah. Di sinilah Vipsaxla ditemukan. Walaupun kehadiran meteorit di Mars bukan hal mengejutkan, tingginya kandungan mineral pada batu ini tetap menjadi keanehan tersendiri.
Profesor Gareth Collins dari Imperial College London menjelaskan bahwa Mars hampir selalu diserang meteorit. Ia mengatakan bahwa pada titik tertentu, benturan meteorit membentuk sebagian besar permukaan planet tersebut.
“Meteorit kemungkinan jatuh setiap hari, meski jumlah pastinya sulit ditentukan,” ujarnya. “Mayoritas meteorit bersifat berbatu, sementara hanya sedikit yang mengandung besi dan nikel.”
Meteorit logam semacam itu biasanya terbentuk di inti asteroid besar, di mana logam berat mengendap ke bagian tengah selama proses pembentukan tata surya.

