News

Harga Minyak Terkerek Naik hingga 3% Jelang Pemilu AS

×

Harga Minyak Terkerek Naik hingga 3% Jelang Pemilu AS

Sebarkan artikel ini
FotoJet 9 1
Kinder Morgan, salah satu kilang minyak terbesar di dunia

KITAINDONESIASATU.COM – Harga minyak melonjak naik hampir 3% pada hari Senin, 4 November 2024, menyusul keputusan OPEC+ untuk menunda rencana peningkatan produksi selama sebulan.
Kenaikan ini terjadi menjelang pekan krusial pemilihan presiden di AS.

Minyak mentah Brent naik $2,05 atau 2,8% menjadi $75,15 per barel, sementara minyak WTI AS naik $2,09 atau 3% menjadi $71,56.

OPEC+ memutuskan untuk memperpanjang pemotongan produksi sebesar 2,2 juta barel per hari hingga Desember, setelah sebelumnya menunda peningkatan produksi sejak Oktober karena harga yang rendah dan permintaan yang lemah.

Rencana awalnya, produksi harus naik sebesar 180.000 barel per hari mulai Desember, tetapi perpanjangan ini memunculkan keraguan akan komitmen grup tersebut untuk kembali menambah pasokan pada 2025.

Walt Chancellor, analis energi Macquarie, menyebut perpanjangan ini mungkin meredakan kekhawatiran tentang potensi “perang harga” OPEC+.

Sekretaris Jenderal OPEC, Haitham Al Ghais, tetap optimistis terhadap permintaan minyak jangka pendek dan panjang.

Di sisi lain, CEO Eni mengungkapkan bahwa pengurangan pasokan OPEC+ yang berlanjut menyebabkan volatilitas pasar energi dan menghambat investasi dalam produksi baru.

Survei Reuters menunjukkan bahwa produksi OPEC meningkat pada Oktober setelah sebelumnya mencapai titik terendah, terutama karena penyelesaian krisis politik di Libya.

Menjelang pemilu AS, kandidat Demokrat Kamala Harris dan kandidat Partai Republik Donald Trump bersaing ketat. Investor juga memantau ketegangan Timur Tengah, menyusul laporan intelijen Israel yang menyebutkan bahwa Iran mungkin berencana menyerang Israel dari Irak dalam waktu dekat.

Turunnya stok bensin AS ke level terendah sejak November 2022 juga menjadi perhatian, dengan penurunan lebih lanjut pada persediaan bensin dan sulingan diprediksi pekan ini.

Sementara itu, pasar memperhatikan badai tropis yang mungkin terbentuk di Karibia dan berpotensi mengancam produksi minyak di Teluk Meksiko. Perusahaan minyak Shell menyatakan telah memindahkan personel dari enam platform lepas pantai mereka sebagai tindakan pencegahan.

Fokus investor juga tertuju pada kemungkinan keputusan Federal Reserve untuk memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada hari Kamis, serta pada stimulus ekonomi baru dari Tiongkok yang sedang dipertimbangkan oleh Kongres Rakyat Nasional untuk mendukung ekonomi yang sedang melambat.- ***

Sumber: Reuters

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *