Ia juga menjelaskan bahwa upaya tersebut selaras dengan visi Kalsel BEKERJA (Berkelanjutan, Berbudaya, Religi, dan Sejahtera Menuju Gerbang Logistik Kalimantan), yang menempatkan penguatan ketahanan terhadap perubahan iklim sebagai salah satu prioritas utama.
Pada 31 Desember 2024, banjir melanda beberapa wilayah di Kalimantan Selatan, memengaruhi ribuan warga.
Menurut laporan BPBD Kalsel, banjir terjadi di beberapa kabupaten/kota, dengan Kota Banjarmasin dan Kabupaten Banjar sebagai daerah yang paling terdampak.
Tinggi muka air (TMA) di Banjarmasin berkisar antara 10 hingga 40 cm, dengan wilayah barat dan selatan menjadi area yang paling parah terdampak. Namun, beberapa area mulai menunjukkan penurunan debit air secara bertahap.
Di Kabupaten Banjar, debit air Sungai Martapura tercatat meningkat 3 cm dibandingkan hari sebelumnya. Desa Tunggul Irang, Bincau, dan Kampung Jawa di Kecamatan Martapura masih terendam banjir, meskipun aktivitas masyarakat berjalan normal.
Sementara itu, di Kabupaten Tabalong, banjir dilaporkan melanda beberapa desa, seperti Muang, Muaram, dan Taratara. Kondisi air di daerah ini telah mengalami penurunan hingga 30 cm.
Di Kabupaten Hulu Sungai Utara, sebanyak 1.864 rumah terdampak banjir. Hal ini memengaruhi 2.108 kepala keluarga dan 6.108 jiwa yang harus mengungsi. Selain itu, fasilitas umum seperti jalan, jembatan, dan fasilitas kesehatan juga mengalami kerusakan akibat banjir. (af/aps)



