KITAINDONESIASATU.COM – Tragedi mengerikan terjadi di TPA Leuwigajah pada 21 Februari 2005.
Gunungan sampah setinggi puluhan meter tiba-tiba meledak dan longsor, menimbun permukiman serta para pemulung yang tengah beraktivitas.
Bencana ini menewaskan 157 orang dan ratusan lainnya dinyatakan hilang.
Saat itu, hujan deras mengguyur kawasan Cimahi dan Bandung Raya sejak dini hari. Air hujan memperparah kondisi tumpukan sampah yang sudah tidak stabil.
Akumulasi gas metana yang terperangkap di dalam gunungan limbah memicu ledakan hebat, disusul longsor besar yang bergerak seperti gelombang tsunami.
Penyebab Gunung Sampah
Tempat pembuangan akhir yang dibangun sejak era 1980-an tersebut diketahui telah melebihi kapasitas.
Sistem penimbunan dengan lereng curam serta material sampah yang tidak dipadatkan membuat struktur semakin rapuh.
Keberadaan mata air di bawah area utara TPA juga memperburuk kestabilan tanah.
Sebelum tragedi terjadi, sebenarnya telah muncul tanda-tanda bahaya seperti retakan tanah, longsor kecil, hingga bau gas menyengat. Namun, peringatan tersebut tidak ditindaklanjuti secara serius.
Titik Balik Pengelolaan Sampah Nasional
Peristiwa ini tercatat sebagai salah satu tragedi TPA terparah di dunia. Pemerintah Jawa Barat kemudian menutup lokasi tersebut dan mendorong perbaikan tata kelola sampah.
Kini, setiap 21 Februari diperingati sebagai Hari Peduli Sampah Nasional untuk mengenang korban sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengelolaan limbah yang aman.
