News

Gencatan Senjata Terancam, Israel dan Hamas Masih Bersitegang

×

Gencatan Senjata Terancam, Israel dan Hamas Masih Bersitegang

Sebarkan artikel ini
FotoJet 3 12
Dok. Pertukaran sandera antara Hamas dan Israel

KITAINDONESIASATU.COM – Pada Minggu, 9 Februari 2025, militer Israel telah menarik diri dari koridor Netzarim, jalur sepanjang 6 km yang sebelumnya dijadikan zona militer sejak awal perang.

Hamas mengklaim bahwa langkah ini menunjukkan keberhasilan mereka dalam memaksa Israel memenuhi tuntutan mereka dan menggagalkan ambisi Tel Aviv untuk mencapai kemenangan penuh.

Meskipun pasukan ditarik, Israel menegaskan tidak akan melakukan penarikan penuh sebelum Hamas benar-benar dilemahkan secara militer dan politik.
Sebaliknya, Hamas menyatakan tidak akan melepaskan sandera yang tersisa hingga seluruh pasukan Israel keluar dari Gaza.

Baca Juga  Tambal Kekosongan, DPRD Kota Bogor Siapkan 4 Unit Bus Operasional Dewan

Kesepakatan gencatan senjata tahap pertama memungkinkan pembebasan 33 sandera Israel oleh Hamas dengan imbalan penghentian sementara pertempuran, pembebasan ratusan tahanan Palestina, dan peningkatan bantuan kemanusiaan ke Gaza.

Namun, perundingan tahap kedua yang bertujuan untuk perpanjangan gencatan senjata dan pembebasan sandera lainnya masih menemui jalan buntu.

Pada Sabtu, Netanyahu mengirim delegasi ke Qatar untuk membahas gencatan senjata, namun level perwakilan yang rendah menimbulkan keraguan akan keberhasilan negosiasi.

Di tengah ketidakpastian ini, dua wanita Palestina, termasuk seorang yang sedang hamil delapan bulan, tewas ditembak tentara Israel di Tepi Barat.

Baca Juga  Iran Tunjuk Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi

Sementara itu, pernyataan Donald Trump semakin memperumit situasi. AS ingin mengambil alih Gaza dan mengusir penduduknya, menjadikannya “riviera Timur Tengah”.

Pernyataan ini memicu kecaman luas, termasuk dari Sekjen PBB António Guterres yang memperingatkan risiko pembersihan etnis.

Menteri luar negeri Mesir segera berangkat ke Washington untuk membahas isu ini, sementara Kairo akan menjadi tuan rumah pertemuan darurat negara-negara Arab pada 27 Februari.

Di sisi lain, Netanyahu menyambut baik ide Trump dan menyatakan bahwa Israel siap mengambil alih Gaza.

Pernyataannya bahwa negara Palestina bisa dibangun di Arab Saudi memicu reaksi keras dari Riyadh dan Liga Arab, yang menolak gagasan tersebut sebagai ilusi.

Baca Juga  Trump dan Netanyahu Umumkan Kematian Ali Khamenei

Tekanan politik dalam negeri terhadap Netanyahu juga meningkat.

Sementara kubu sayap kanan menuntut kelanjutan perang untuk menghancurkan Hamas, banyak warga Israel menginginkan perundingan agar lebih banyak sandera dapat dibebaskan.

Menteri Keuangan Bezalel Smotrich bahkan mengancam akan keluar dari koalisi jika perang tidak dilanjutkan, yang bisa mengguncang pemerintahan Netanyahu.- ***

Sumber: The Guardian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *