KITAINDONESIASATU.COM – Suasana haru dan penuh kehangatan menyelimuti Auditorium HM. Rasjidi, Jakarta, saat Kementerian Agama RI melalui Ditjen Bimas Islam menggelar acara Lebaran Yatim dan Penyandang Disabilitas, pada Jumat, 4 Juli 2025. Acara ini menjadi puncak kemanusiaan dalam rangkaian program Peaceful Muharam yang berlangsung sejak 22 Juni hingga 16 Juli 2025.
Dengan mengusung tema “Damai Bersama Manusia dan Alam”, Kemenag menunjukkan wajah baru pelayanan keagamaan yang lebih inklusif, penuh empati, dan menyentuh langsung kehidupan masyarakat akar rumput.
Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar, menegaskan bahwa Peaceful Muharam bukan hanya sekadar agenda tahunan, melainkan gerakan transformasi sosial-spiritual yang menyuarakan nilai hijrah dalam aksi nyata.
“Peaceful Muharam bukan sekadar slogan, ini aksi nyata. Kita hadir untuk anak yatim, penyandang disabilitas, pasangan tak mampu, anak muda, bahkan untuk kelestarian alam. Ini adalah bentuk tanggung jawab spiritual dan sosial kami untuk seluruh umat dan bangsa,” tegas Nasaruddin dalam konferensi pers.
Acara ini bukan hanya tentang berbagi, tapi juga menjadi simbol bahwa semua golongan tanpa kecuali berhak atas perhatian dan pelayanan negara, termasuk mereka yang selama ini terpinggirkan. Peaceful Muharam pun menjadi momentum besar bagi Kemenag untuk terus mendorong nilai-nilai keberagamaan yang merangkul semua tanpa batas.
Kegiatan Lebaran Yatim dan Penyandang Disabilitas melibatkan ribuan penerima manfaat secara langsung dan disertai penyaluran dua juta bingkisan kepada anak yatim dan penyandang disabilitas di seluruh Indonesia. Program ini didukung oleh lembaga zakat, perbankan syariah, dunia usaha, dan masyarakat, dengan total donasi sebesar Rp310,8 miliar.
“Ini bukan kegiatan simbolik. Tadi saya panggil langsung anak-anak yang tampil di panggung, saya pastikan mereka benar-benar yatim. Kita tidak ingin program ini sekadar formalitas, tapi betul-betul sampai ke tangan yang tepat,” jelasnya.
Menag juga mengapresiasi partisipasi penyandang disabilitas dalam acara tersebut. Tarian pembuka yang dibawakan oleh anak-anak disabilitas menjadi pengingat bahwa keterbatasan fisik tidak membatasi ruang prestasi dan ekspresi.
“Kita harus ubah paradigma. Penyandang disabilitas bukan objek bantuan, tapi subjek keberdayaan. Hari ini mereka tampil di panggung, besok mereka yang memimpin,” ucap.
Imam Besar Masjid Istiqlal itu menambahkan, salah satu program unggulan dalam rangkaian Peaceful Muharam adalah Nikah Massal yang telah digelar pada 28 Juni 2025. Kegiatan ini memberi akses pernikahan sah secara agama dan negara kepada pasangan kurang mampu tanpa biaya apa pun. Fasilitas mencakup mahar, rias pengantin, penginapan, dokumentasi, hingga bimbingan pernikahan.
“Kami berharap program ini menjawab kebutuhan riil masyarakat, sekaligus mencegah praktik kumpul kebo atau hubungan di luar nikah,” tegas Menag.
Menariknya, nikah massal ini diintegrasikan dengan gerakan ekologi: setiap pasangan diminta menanam pohon. “Bayangkan dua juta pasangan menikah setiap tahun. Kalau masing-masing tanam satu pohon, akan lahir dua juta pohon baru. Inilah ekoteologi, kesadaran lingkungan berbasis nilai keagamaan,” katanya.
Konsep ekoteologi menjadi fondasi penting dalam Peaceful Muharam. Menurut Nasaruddin, membangun kepedulian lingkungan tidak cukup dengan bahasa birokrasi atau hukum. “Bahasa agama lebih dalam. Ia menyentuh hati, membentuk kesadaran, dan mengubah perilaku. Itulah kekuatan dakwah ekoteologis,” jelasnya.
Untuk mendorong keberlanjutan, Kementerian Agama juga meluncurkan kompetisi antar satuan kerja. “Kami akan nilai siapa pondok pesantren paling hijau, masjid paling asri, kantor Kementerian Agama paling ramah lingkungan. Kita ingin tempat ibadah jadi taman kehidupan, bukan ruang yang gersang,” tambahnya.
Rangkaian Peaceful Muharam juga melibatkan generasi muda. Dalam kegiatan Peaceful Muharam bersama Gen-Z yang digelar 27 Juni 2025, Kementerian Agama mengajak anak muda untuk menafsirkan hijrah sebagai proses peningkatan diri: dari pasif menjadi aktif, dari apatis menjadi peduli, dari konsumeris menjadi produktif.
Kegiatan lainnya antara lain Car Free Day Syiar Muharam, Ngaji Budaya Tradisi Muharam, Kick-Off 1.000 Masjid Inklusif dan Gerakan Ngaji Fasolatan, Family Orientation on The Mosque’s Site (FOREMOST), dan konferensi internasional ICIEFE bertema Islamic Ecotheology for the Future of the Earth pada 14–16 Juli 2025.
“Hijrah hari ini bukan sekadar berpindah dari Makkah ke Madinah. Hijrah hari ini adalah berpindah dari ketidakpedulian menuju keberpihakan. Dari pasif ke partisipatif. Dari kerusakan menuju keberlanjutan. Dari eksklusif menuju inklusif,” tegas Nasaruddin.
Menutup konferensi pers, Menag menyampaikan harapan agar gerakan ini terus meluas dan mengakar. “Doakan kami. Kemenag akan terus berinovasi, menghadirkan kejutan-kejutan produktif untuk umat. Peaceful Muharam adalah awal dari wajah baru pelayanan keagamaan: lebih ramah, membumi, dan berdampak,” pungkasnya. (*)



