News

Gawat! Monkeypox Ditemukan di Tangerang Selatan

×

Gawat! Monkeypox Ditemukan di Tangerang Selatan

Sebarkan artikel ini
cacar monyet
Ilustrasi virus monkeypox(Pixabay/geralt)

KITAINDONESIASATU.COM -Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mencatat ditemukan lima orang dengan gejala monkeypox hingga 23 Agustus 2024. Dua orang di antaranya terkonfirmasi positif.

” Kondisi pasien sudah sembuh. Berdasarkan data yang terlaporkan ke Dinkes kasus terbanyak terjadi pada kelompok laki-laki dengan usia 22-49 tahun,” ujar Kepala Dinkes Tangsel, Allin Hendalin Mahdaniar, dikutip Kamis 5 September 2024.

Allin menuturkan, penyakit monkeypox merupakan emerging zoonosis yang disebabkan virus monkeypox. Penularan monkeypox dari manusia ke manusia, patut diwaspadai bisa melalui droplet, kontak langsung dengan lesi dan cairan tubuh termasuk benda terkontaminasi.

Baca Juga  Hari Kedua Pencarian Helikopter, Polda Kalsel Turunkan Brimob dan Samapta

“Gejala penyakit ini mirip dengan gejala cacar air, namun lebih ringan. Gejalanya antara lain sakit kepala, demam akut >38,5 C, ruam akut, nyeri otot, sakit punggung, kelemahan tubuh serta ditemukan pembengkakan pada kelenjar getah bening (limfadenopati),” jelasnya.

Allin mengimbau masyarakat untuk tidak panik dan tetap waspada monkeypox dengan meningkatkan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) serta meningkatkan protokol Kesehatan. Sebagai bentuk kesiapsiagaan kewaspadaan dini, Pemkot Tangsel sudah melakukan sosialisasi, edukasi kepada tenaga kesehatan dan masyarakat tentang monkeypox, dan akan memperkuat sistem surveilans yang sudah ada untuk melakukan investigasi maupun pelacakan kontak.

Baca Juga  Gunung Dukono di Maluku Utara Kembali Erupsi, Warga Diimbau Tidak Mendaki

“Kami juga mengharapkan peran serta masyarakat dalam upaya deteksi dini untuk segera melaporkan jika ditemukan kasus seperti monkeypox di wilayahnya. Laporkan segera kepada puskesmas setempat agar dapat ditindaklanjuti,” katanya.

“Jika mengalami gejala monkeypox, segera ke fasilitas pelayanan kesehatan atau rumah sakit agar mendapatkan pengobatan simtomatik dan suportif untuk meringankan gejala yang ada hingga mencegah terjadinya infeksi sekunder,” ujar Alin. (Yok

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *