KITAINDONESIASATU.COM – Wilayah Galilea di utara Israel membara setelah dihantam hujan roket besar-besaran pada Jumat (13/3/2026). Serangan udara ini dilaporkan menyebabkan kerusakan parah dengan sedikitnya 300 rumah warga hancur dan infrastruktur publik mengalami kerusakan fatal. Suasana mencekam menyelimuti kawasan tersebut seiring dengan suara sirine peringatan yang terus meraung.
Ironisnya, serangan masif ini terjadi hampir bersamaan dengan pernyataan kontroversial dari Donald Trump. Dalam sebuah pidatonya, Trump mengklaim bahwa Iran saat ini sedang berada di ambang “penyerahan diri” akibat tekanan diplomatik dan sanksi ekonomi yang berat.
Namun, fakta di lapangan menunjukkan hal yang kontradiktif; serangan roket yang diduga berasal dari proksi-proksi yang didukung Iran justru menunjukkan eskalasi militer yang semakin intens.
Layanan darurat Israel bekerja ekstra keras di tengah reruntuhan untuk mengevakuasi warga yang terjebak. Meskipun sistem pertahanan udara Iron Dome berhasil mencegat sebagian besar proyektil, volume roket yang sangat banyak membuat beberapa di antaranya lolos dan menghantam pemukiman padat penduduk.
Analis militer menilai bahwa serangan ini merupakan pesan tegas dari Teheran bahwa klaim penyerahan diri yang disebutkan Trump tidak berdasar.
Sementara itu, warga di perbatasan kini harus menghadapi kenyataan pahit kehilangan tempat tinggal di tengah ketidakpastian politik global yang kian memanas. Hingga berita ini diturunkan, jumlah korban jiwa masih dalam proses pendataan oleh otoritas setempat.(*)


