Untuk menentukan usia fosil, tim meneliti sifat magnetik dari 180 sampel sedimen di sekitarnya dan mengidentifikasi pembalikan medan magnet Matuyama–Brunhes, peristiwa geologis yang terjadi sekitar 773.000 tahun lalu.
Jean-Jacques Hublin, rekan penulis studi dan ahli paleoantropologi dari Institut Max Planck di Jerman, mengatakan bahwa temuan ini mengisi kekosongan besar dalam catatan fosil Afrika antara 1 juta hingga 600.000 tahun lalu.
Bukti genetik sebelumnya telah menunjukkan bahwa nenek moyang terakhir Homo sapiens dan kerabatnya masih hidup di Afrika pada periode tersebut.
Menurut Hublin, fosil Thomas Quarry merupakan kandidat kuat sebagai “akar” pohon evolusi yang mengarah pada manusia modern dan sepupu purbanya. Meskipun evolusi awal manusia banyak terjadi di Afrika timur dan selatan, fase selanjutnya melibatkan migrasi luas ke berbagai wilayah Afrika dan Eurasia.
Setelah Homo erectus muncul sekitar 2 juta tahun lalu, sebagian kelompok menyebar ke Asia dan Oseania, sementara kelompok lain bertahan di Afrika dan berevolusi lebih lanjut sebelum bergerak ke Eropa sekitar 800.000 tahun lalu.
Di Spanyol, kelompok ini dikenal sebagai Homo antecessor dan diyakini menjadi nenek moyang langsung Neanderthal.


