Rangkaian Kegiatan yang Beragam dan Menginspirasi
Festival Diburuan Jilid III menawarkan berbagai kegiatan yang dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang holistik. Selain pelatihan pemasaran digital, inovasi, dan digital public speaking yang disampaikan oleh dosen Universitas INABA, acara ini juga diramaikan dengan bazar, pameran, serta pertunjukan menarik yang menampilkan alat musik bambu hasil karya masyarakat disabilitas.
Salah satu daya tarik utama acara ini adalah adanya workshop yang menunjukkan transformasi bambu menjadi berbagai produk bernilai tinggi. Mulai dari produk sederhana seperti tumbler hingga alat musik yang kompleks, bahkan hingga penggunaan bambu untuk konstruksi. Inovasi ini merupakan bukti nyata bagaimana kreativitas dapat mengubah bahan sederhana menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
“Ketika bambu ini bisa dijadikan berbagai macam hal yang bisa mendunia tentunya,” ujar Ibu Agnes Urganty, S.Stp, S.H, M,Si selaku Camat dari Kabupaten Ngamprah. “Kita lihat tadi di sini juga ada workshop dimana dari hanya membuat tumbler sampai dengan intermediatnya alat musik ya, berikut yang advance nya seperti ini ya, membuat bambu untuk konstruksi, karena ini juga inovasi para gen z tentunya ya. Untuk para gen z bagaimana kita juga bisa mengekspor potensi, kapasitas diri dan dari baju saja, kita bisa menghasilkan cuan.”
Pameran produk-produk karya peserta juga menjadi sorotan, di mana berbagai hasil kreativitas penyandang disabilitas dan UMKM lokal dipamerkan dan dapat dibeli langsung oleh pengunjung. Hal ini tidak hanya memberikan platform untuk memasarkan produk, tetapi juga membangun kepercayaan diri para pelaku usaha.
Kolaborasi Multipihak untuk Dampak yang Lebih Luas
Salah satu keunikan dari Festival Diburuan Jilid III adalah adanya kolaborasi dari berbagai pihak yang terlibat. Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Kabupaten Bandung Barat, Ibu Dra. Sri Dustirawati, M.Si, sangat mengapresiasi sinergi yang terbangun dalam acara ini.

“Dan kegiatan pada hari ini bukan hanya temanya inovasi, kreatif, edukasi, kemudian juga kolaborasi. Tapi karena melibatkan banyak sektor, jadi kita namakan juga kegiatan pada ini adalah synergy pentahelik, karena ada government -nya, ada komunitas -nya, ada akademisi nya juga, ada dari BUMN-nya, perusahaan, kemudian melibatkan juga media,” jelas Ibu Sri Dustirawati.


