KITAINDONESIASATU.COM – Memasuki pekan keempat kampanye militer di Timur Tengah, Amerika Serikat (AS) dilaporkan telah menyerang lebih dari 10.000 target militer milik Iran dan kelompok proksinya. Operasi skala besar ini dilakukan sebagai respons atas meningkatnya ancaman terhadap aset-aset strategis dan personel AS di kawasan tersebut.
Komandan US Central Command (CENTCOM) Laksamana Brad Cooper menyatakan serangan udara dan rudal presisi tersebut menyasar berbagai infrastruktur vital, termasuk gudang persenjataan, pusat komando dan kendali, serta fasilitas peluncuran rudal balistik milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Data intelijen menunjukkan bahwa intensitas serangan meningkat drastis dalam tujuh hari terakhir guna melumpuhkan kemampuan logistik militer Iran secara sistematis.
Otoritas terkait melaporkan bahwa sedikitnya 1.500 orang tewas akibat rangkaian gempuran tersebut. Sebagian besar korban merupakan personel militer dan anggota milisi bersenjata yang berada di instalasi-instalasi yang menjadi target utama.
Meskipun demikian, kekhawatiran global mengenai dampak kemanusiaan dan risiko meluasnya konflik menjadi perang regional yang tak terkendali terus menguat.
Pihak Pentagon menegaskan bahwa operasi ini bertujuan untuk menegakkan supremasi keamanan dan mencegah eskalasi lebih lanjut dari pihak lawan.
Di sisi lain, Teheran mengutuk keras tindakan Washington dan menyebutnya sebagai pelanggaran kedaulatan yang nyata, sembari mengancam akan melakukan aksi balasan yang setimpal dalam waktu dekat.(*)



