KITAINDONESIASATU.COM – Penerbangan internasional di Bandara Damaskus kembali beroperasi untuk pertama kalinya sejak runtuhnya rezim Bashar al-Assad, termasuk penerbangan langsung pertama dari Doha dalam 13 tahun.
Suasana meriah terasa di aula kedatangan, dengan lagu-lagu patriotik, asap hijau, dan tepuk tangan penumpang yang antusias.
Seorang penumpang, Bashar al-Hussein dari Daraa, menyatakan kebanggaannya menjadi warga Suriah.
Ia sengaja terbang dari Dubai ke Doha untuk bisa menaiki penerbangan langsung ke Damaskus.
Bandara yang kini berada di bawah pemerintahan baru memberikan pengalaman berbeda. Para stafnya lebih profesional dan bebas dari praktik suap.
“Dulu, dari bandara hingga pintu keluar terakhir, Anda harus membayar sekitar $200,” ungkapnya, seperti ditulis The Guardian pada 7 Januari 2025.
Meskipun pemerintahan baru menjanjikan perubahan, beberapa penumpang tetap menghadapi masalah.
Sebagian mendapati adanya tuntutan hukum dari rezim lama saat pemeriksaan paspor, mengingatkan pengalaman buruk di bawah kekuasaan Assad.
Bandara yang sempat rusak akibat konflik telah diperbaiki. Lubang peluru di menara pengawas lalu lintas udara telah ditambal, dan staf maskapai seperti SyrianAir dan Cham Wings kembali bekerja meski beberapa belum menerima gaji.
Aparat keamanan juga berganti, dengan anggota dari pemerintahan baru, termasuk kelompok Islamis HTS, mengambil alih pengawasan imigrasi.
Ali Reda, seorang pilot SyrianAir, memuji langkah keamanan baru yang dianggap memenuhi standar internasional.
Ia optimis penerbangan langsung ke berbagai tujuan, termasuk Eropa, dapat segera terwujud jika sanksi internasional terhadap SyrianAir dicabut. Saat ini, armada maskapai tersebut hanya terdiri dari dua pesawat, jauh berkurang dari 18 pesawat sebelumnya.
Maskapai Cham Wings dan SyrianAir, meskipun masih dikenai sanksi AS, mulai membuka rute baru seperti Kuwait, Baghdad, dan Erbil.
Pemerintah AS juga baru-baru ini melonggarkan beberapa sanksi untuk mendukung layanan publik dan bantuan kemanusiaan di Suriah, memberikan harapan bagi maskapai untuk memulihkan operasional sepenuhnya.- ***
Sumber: The Guardian
