KITAINDONESIASATU.COM – Lima orang yang terbawa arus banjir bandang di Kecamatan Wera dan Kecamatan Ambalawi Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) masih belum diketemukan.
Karena itu, Tim SAR Gabungan masih melakukan pencarian terhadap enam orang tersebuy.
“Hingga siang ini, tim SAR gabungan masih melakukan penyisiran di pesisir pantai untuk mencari korban yang hilang,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam siaran persnya.
Peristiwa tragisnya sendiri, terjadi pada Minggu (2/2/2025) pukul 18.10 WITA, dan menyebabkan dua orang meninggal dunia.
Banjir bandang yang dipicu oleh hujan deras di hulu pegunungan Pulau Sangeang itu membawa material kayu dan batu yang menghantam rumah-rumah warga di lereng pegunungan.
Berdasarkan hasil kaji cepat dari Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bima, tercatat tujuh rumah panggung milik warga hanyut tersapu banjir.
“Akibat peristiwa ini, sebanyak 99 orang terpaksa mengungsi sementara ke rumah kerabat dan masjid terdekat,” jelas Abdul Muhari.
Selain itu, kerugian material yang terjadi termasuk rusaknya tiga jembatan: Jembatan Tololai Desa Mawu, Jembatan Ujung Kalate Desa Nipa, dan Jembatan Talapiti Desa Talapiti.
Sebuah ruas jalan di Desa Nanga Wera juga hampir putus, sementara 40 hektar lahan pertanian terdampak, dengan tanaman padi milik warga terbawa banjir dan areal persawahan dipenuhi endapan sedimen.



