KITAINDONESIASATU.COM – Ukraina baru saja melancarkan salah satu serangan pesawat tak berawak terbesar terhadap Rusia.
Sebuah rekaman video menunjukkan ledakan dan kebakaran di berbagai fasilitas penting, termasuk pembangkit listrik dan kilang minyak di Moskow.
Meskipun Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan bahwa serangan tersebut telah berhasil dihalau, dengan 158 drone berhasil dihancurkan di 15 wilayah, serangan ini tetap menimbulkan dampak signifikan.
Serangan pesawat tak berawak ini terjadi saat Rusia meningkatkan serangannya di kota Kharkiv, Ukraina. Pasukan Rusia telah bergerak maju dalam beberapa pekan terakhir, semakin mendekati kota Pokrovsk.
Rekaman di media sosial menunjukkan bahwa beberapa pesawat tak berawak Ukraina berhasil mencapai sasaran di dalam wilayah Rusia, termasuk kilang minyak di distrik Kapotnya, Moskow, dan pembangkit listrik di wilayah Tver.
Salah satu pembangkit listrik terbesar di Rusia, Konakovo, terkena serangan yang menyebabkan ledakan besar dan kebakaran.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menyatakan bahwa serangan terhadap infrastruktur penting Rusia adalah respons yang sah terhadap serangan berulang Kremlin terhadap warga sipil dan infrastruktur energi Ukraina.
Ia mengecam keras serangan Rusia di Kharkiv yang menyebabkan kerusakan parah, termasuk pada gedung-gedung publik dan perumahan.
Serangan Rusia di Kharkiv menggunakan rudal Iskander, yang menurut pejabat setempat, sangat sulit untuk dicegat.
Serangan tersebut melukai 44 orang, termasuk tujuh anak-anak. Beberapa rudal menghantam area sekitar taman air dan pusat perbelanjaan, mengingatkan kembali pada serangan tahun 2022 yang membuat warga harus berlindung di stasiun bawah tanah.
Zelenskiy mengungkapkan bahwa selama seminggu terakhir, Rusia telah meluncurkan lebih dari 160 rudal, 780 bom berpemandu, dan 400 drone ke Ukraina. Ia menegaskan perlunya dukungan internasional yang lebih besar untuk melindungi kota-kota Ukraina dari agresi Rusia.
Ukraina terus mendesak AS untuk mengizinkan penggunaan roket Atacms yang dapat mencapai sasaran di wilayah Rusia, namun permintaan ini masih belum disetujui oleh Washington.-***
Sumber: The Guardian

