News

Di Tengah Guncangan, Bagaimana Peluang Acil Odah untuk Menjadi Gubernur Kalsel?

×

Di Tengah Guncangan, Bagaimana Peluang Acil Odah untuk Menjadi Gubernur Kalsel?

Sebarkan artikel ini
Calon Gubernur Kalimantan Selatan, Acil Odah. (Anang Fadhilah)
Calon Gubernur Kalimantan Selatan, Acil Odah. (Anang Fadhilah)

KITAINDONESIASATU.COM – Setelah penetapan Gubernur Kalimantan Selatan, Sahbirin Noor, sebagai tersangka dalam kasus dugaan suap oleh KPK, suasana politik di Kalsel diprediksi akan mengalami dampak yang signifikan. Selain mengganggu jalannya pemerintahan, kondisi ini diperkirakan akan mempengaruhi dinamika politik di daerah tersebut, terutama menjelang pemungutan suara Pilkada Serentak 2024 yang tinggal sebulan lagi.

Calon Gubernur Kalsel, Acil Odah-Rozanie, diperkirakan akan merasakan imbas dari situasi ini. Meskipun demikian, Prof. Bachruddin Ali Akhmad, seorang pengamat politik dari Universitas Lambung Mangkurat, berpendapat bahwa peluang Acil Odah masih ada meski suaminya terjerat kasus.

Ia menjelaskan bahwa dampak dari operasi tangkap tangan (OTT) lebih berpengaruh pada reputasi ketimbang dukungan elektoral Acil Odah. “Pemilih umumnya kurang memperhatikan reputasi; yang terpenting adalah apakah mereka puas dengan transaksi yang ada. Jika tidak ada masalah, mereka tetap akan memilih, terutama bagi pemilih setia Acil Odah,” paparnya, Jumat (11/10/2024)

Bachruddin juga menyoroti bahwa menurunnya reputasi dan penangkapan suaminya akan berdampak pada kemampuan Acil Odah dalam hal logistik dan akomodasi. “Hal ini akan menjadi kendala bagi Acil Odah untuk meraih kemenangan dalam Pilkada,” tambahnya.

Sebagai petahana, Paman Birin memiliki pengaruh besar dalam menarik dukungan pemilih, berkat jejaring politik yang telah dibangunnya selama masa jabatannya. Namun, MS Shiddiq, seorang pengamat politik dan kebijakan publik, mengingatkan bahwa OTT dapat merusak citra politik keluarga serta jaringan kekuasaan yang ada.

Ketika sosok sentral dalam jaringan politik menghadapi masalah hukum, dukungan dari berbagai lapisan masyarakat bisa bergeser, terutama dari pemilih yang sensitif terhadap isu korupsi. Shiddiq menyatakan bahwa akibat dari situasi ini adalah menurunnya tingkat kepercayaan publik terhadap calon-calon yang terhubung dengan Paman Birin, termasuk istrinya, Raudatul Jannah alias Acil Odah.

“Lawan politik akan memanfaatkan keadaan ini untuk menyerang kredibilitas keluarga dan menciptakan kesan bahwa ada dinasti politik yang rentan terhadap penyalahgunaan kekuasaan,” ungkapnya.

Dukungan dari partai politik atau koalisi yang sebelumnya solid di belakang Paman Birin juga berpotensi melemah, tergantung pada dampak OTT terhadap pandangan elit politik di tingkat nasional. Shiddiq menjelaskan bahwa keberhasilan Acil Odah dalam memenangkan Pilkada sangat bergantung pada sejumlah faktor.

Pertama adalah kemampuan dalam mengelola krisis serta strategi komunikasi yang diterapkan. Jika Acil Odah dan timnya mampu menangani kasus suaminya dengan baik, seperti menegaskan sikap independennya terhadap kasus tersebut, peluangnya mungkin masih ada. “Namun, hal ini tidaklah mudah, karena opini publik mudah dipengaruhi oleh pandangan negatif,” tuturnya.

Modal sosial dan emosional juga bisa dimanfaatkan. Shiddiq menambahkan bahwa Acil Odah mungkin berusaha membangun simpati dari masyarakat lokal dengan menggambarkan dirinya sebagai korban situasi yang dialami suaminya. “Namun, strategi ini berisiko menimbulkan narasi tandingan dari lawan politik yang menuduhnya sebagai bagian dari dinasti korup,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *