Sebagian besar korban mengaku tertembak saat mencoba mengambil bantuan di lokasi distribusi yang dikelola Yayasan Kemanusiaan Gaza, lembaga yang disebut didukung oleh AS dan Israel.
Israel Bantah, Saksi Mata Bicara
Militer Israel mengklaim hanya menembakkan tembakan peringatan kepada warga yang berada sejauh satu kilometer dari titik distribusi. Namun, saksi mata mengungkap bahwa ribuan orang telah berkumpul sejak dini hari di area yang dikenal sebagai “Bundaran Bendera”.
“Orang-orang lari karena ketakutan. Saya melihat sendiri para martir dan orang-orang yang terluka. Itu bukan tembakan peringatan,” kata salah satu warga kepada AFP.
Paman Hussam, Ali Wafi, tak bisa menyembunyikan kemarahan dan kesedihannya.
“Keponakanku hanya ingin membawa pulang tepung untuk anak-anaknya. Tapi mereka malah dibom dan ditembaki. Semua ini demi sepotong roti,” ujarnya.
Distribusi Bantuan yang Penuh Risiko
Distribusi bantuan di Gaza sebenarnya dianggap sebagai perjalanan yang mempertaruhkan nyawa. Lokasi distribusi dibangun di wilayah terbuka, dijaga oleh tentara dan kendaraan lapis baja. Kerumunan warga menanti bantuan di antara pagar logam, dengan harapan mendapat sekantong tepung atau sebungkus makanan.
Namun, proses yang seharusnya menjadi harapan justru kerap berubah menjadi tragedi. ***
Sumber : AFP



