KITAINDONESIASATU.COM – Krisis politik di Korea Selatan semakin mendalam setelah Ketua Partai Kekuatan Rakyat (PPP), Han Dong-hoon, secara mengejutkan mendukung penangguhan Presiden Yoon Suk Yeol. Demikian dilaporkan New York Post pada Jumat, 6 Desember 2024.
Langkah ini menambah tekanan terhadap Yoon yang sebelumnya memicu kontroversi dengan memberlakukan darurat militer selama enam jam.
Keputusan darurat militer tersebut dikritik sebagai tindakan inkonstitusional oleh pihak oposisi dan bahkan beberapa sekutunya.
Han menyatakan dukungan tersebut dalam sebuah pertemuan partai, mengutip ancaman besar yang dapat ditimbulkan oleh keputusan ekstrem seperti darurat militer.
Dia juga mengungkap adanya dugaan rencana Presiden Yoon untuk menahan sejumlah politisi atas tuduhan “kegiatan anti-negara” selama periode singkat darurat militer.
Informasi ini, menurut Han, diperoleh dari pejabat intelijen tinggi Korea Selatan.
Deklarasi darurat militer Yoon telah memicu protes luas di jalan-jalan Seoul. Ribuan pengunjuk rasa menyerukan pengunduran dirinya. Serikat buruh utama juga mengancam mogok kerja tanpa batas waktu jika Yoon tetap menjabat.
Oposisi, yang menguasai mayoritas kursi di Majelis Nasional, sedang mendorong mosi pemakzulan yang membutuhkan dukungan dua pertiga anggota parlemen.
Mereka menuduh Yoon melakukan “kudeta” dan menyebut tindakannya mencoreng citra internasional Korea Selatan.
Kritik ini diperkuat oleh reaksi negatif dari negara-negara sekutu, termasuk AS, yang menyatakan keprihatinan mendalam atas situasi tersebut.
Jika pemakzulan berhasil, Yoon akan ditangguhkan dari jabatannya hingga Mahkamah Konstitusi memutuskan kelanjutannya.
Sementara itu, Perdana Menteri Han Duck-soo akan mengambil alih tugas kepresidenan.
Di tengah krisis, Yoon tetap bungkam, sementara penyelidikan terhadap tindakannya oleh kejaksaan terus berlanjut.
Pejabat pertahanan dan loyalis presiden juga menghadapi penyelidikan terkait peran mereka dalam penerapan darurat militer. Tindakan ini semakin memperuncing ketegangan politik di negara tersebut.- ***
Sumber: New York Post



