Mula-mula Hashim berkantor di PT Indoconsult Associates yang berkantor di Jalan Kyai Haji Wahid Hasyim nomor 98 Jakarta Pusat.
Dimana dia menjadi direkturnya juga. Setelah dua tahun di perusahaan konsultasi manajemen itu, Hashim mulai merintis usaha sendiri di PT Era Persada, yang bergerak di bidang perdagangan dalam negeri.
Setelah membangun Era Persada, Hashim lalu mengelola PT Tidar Kerinci Agung (sejak 1984); PT Prahabima (sejak 1985); PT Bank Universal (sejak 1985); PT Ina Persada (sejak 1986); PT Tirtamas Majutama (sejak 1987) dan lainnya.
Tirtamas adalah perusahaan utama yang bergerak di bidang sumber daya, manufaktur, dan perdagangan. Pada 1988, lewat Tirtamas Majutama, Hashim menjadi pemilik saham PT Semen Cibinong.
Bisnis Hashim tidak hanya di Indonesia, tapi juga sampai ke luar negeri. Hashim terjun ke bisnis minyak sampai Kazakhstan.
Bisnis Hashim cukup kuat. Ketika mertua Prabowo lengser, Presiden Soeharto , Hashim masih tetap jaya. Hashim pernah berada di rangking 35 orang Indonesia terkaya dengan kekayaan 850 juta dolar AS versi majalah Forbes (2018).
Semua usaha Hashim itu dinaungi Arsari Group, dari nama panggilan anak-anak Hashim. Mulai dari Aryo (Aryo Djojohadikusumo), Sara (Rahayu Saraswati Djojohadikusumo), dan Indra (Indra Djojohadikusumo).
Arsari juga menjadi nama yayasan Hashim yang bergerak di bidang kebudayaan. Hashim sendiri punya reputasi sebagai kolektor barang antik.



