KITAINDONESIASATU. COM – “Agama ini melarang senua umatnya untuk sembahyang apapun. Tidak ada sembahyang, tidak ada doa, tidak tempat ibadah.” Itu ungkapan Dahlan Iskan mantan CEO Jawa Pos dalam unggahan video viral disosial media akhir-akhir ini.
“Namanya Buddha Tzu Chi, di Jakarta sudah berkembang dan saya menjadi anggotanya. Anggota aktivisnya,” tegas Dahlan Iskan, yang sekarang mengelola disway.id.
Penggalan kalimat pidato Dahlan Iskan dalam sebuah video yang diunggah pada akun instagram @situasikabar88, yang nongol pada Selasa 29 Oktober 2024.
Pada penggalan video selanjutnya, tampak Dahlan Iskan mengenakan baji krem gelap berjalan sambil kedua tangannya memegang patung warna bronze ke atas.
Dengan sikap khitmad, tenang berjalan menuju altar panggung warna merah, dan meletakkan patung itu disana.
Muncul spekulasi, apakah Dahlan Iskan yang pernah operasi ganti hati di Tiongkok itu, dia juga bergganti agama?
Terjawab di dalam keterangan video itu: Itu Urusan Dia dengan Tuhannya!
Baca juga: Biografi Dr. Sutomo, Tokoh Pendiri Budi Utomo
Dahlan Iskan menyatakan dirinya sebagai anggota aktivis Buddha Tzu Chi dalam pidatonya yang berlangsung di Pondok Pesantren Ma’had Al-Zaytun, Indramayu, Jawa Barat, pada tanggal 16 Oktober 2024.
Dalam pidato tersebut, ia menjelaskan ajaran Buddha Tzu Chi yang ia temui di Taiwan, menekankan prinsip bahwa agama ini tidak memiliki tempat ibadah dan lebih fokus pada tindakan nyata untuk membantu sesama.
Pernyataan ini memicu berbagai reaksi di masyarakat, termasuk spekulasi mengenai perubahan keyakinannya.
Dahlan Iskan memilih ajaran Buddha Tzu Chi karena prinsipnya yang unik, yaitu tidak memiliki tempat ibadah, tidak melakukan sembahyang, dan lebih fokus pada tindakan nyata untuk membantu sesama.
Ia menganggap bahwa cara terbaik untuk berdoa adalah dengan membantu orang lain, yang sejalan dengan misi sosial Tzu Chi dalam memberantas kebodohan dan menyediakan layanan kesehatan.
Dahlan juga mengkritik pembangunan rumah ibadah yang dapat menjadi sumber persaingan dan konflik antaragama, menginginkan pendekatan yang lebih damai dan inklusif dalam beragama.
Dahlan Iskan memutuskan untuk menjadi anggota aktivis Buddha Tzu Chi setelah terkesan dengan ajaran yang ia temui di Taiwan, khususnya di Hualien.
Ia mengagumi prinsip bahwa agama ini tidak memiliki tempat ibadah, tidak melakukan sembahyang, dan lebih menekankan tindakan nyata untuk membantu sesama sebagai bentuk ibadah.
Dalam pidatonya, ia mengkritik pembangunan rumah ibadah yang dapat memicu persaingan dan konflik antaragama, serta menekankan pentingnya menyebarkan kebaikan kepada orang lain.
Dahlan Iskan menemukan ajaran Buddha Tzu Chi di Taiwan melalui kunjungannya ke pantai Timur Taiwan, Hualien. Ia bertemu dengan pemimpin agama tertinggi di sana, Master Cheng Yen, yang merupakan pendiri Yayasan Kemanusiaan Buddha Tzu Chi.
Pemimpin ini menjelaskan bahwa agama Buddha Tzu Chi tidak boleh memiliki tempat ibadah, tidak ada sembahyang apa pun, dan tidak ada doa ritualistik.
Agama ini lebih fokus pada tindakan nyata dan kebajikan, seperti membersihkan kebodohan, penyediaan layanan kesehatan, donor organ, dan segala macam bentuk kegiatan positif.
Dahlan Iskan terkesan dengan filosofi autokritik agama yang diajarkan oleh Buddha Tzu Chi, yang menekankan pentingnya welas asih universal dan menghindari konflik antar-agama.
Ia juga menyambut gagasan bahwa sembahyang terbaik dan doa terbaik adalah membantu orang lain, dan bahwa kebersamaan harus dipelihara agar perbedaan agama tidak menimbulkan perpecahan. *


