Untuk menjaga sportivitas, panitia menerapkan sejumlah aturan teknis. Seluruh peserta diwajibkan menggunakan layangan berukuran 95 sentimeter, sementara panjang benang dibatasi agar seluruh layangan diterbangkan pada ketinggian yang relatif sama.
Peserta diperbolehkan membawa layangan dan benang gelasan sendiri, namun spesifikasi gelasan tetap harus mengikuti standar yang telah ditentukan panitia.
Selain menjadi ajang kompetisi, kejuaraan adu layangan Sumedang juga dimanfaatkan sebagai sarana edukasi mengenai pentingnya bermain layangan di lokasi yang aman.
Ikko mengimbau masyarakat agar tidak menerbangkan layangan di dekat jaringan listrik maupun jalan raya demi menghindari risiko kecelakaan.
Ia juga berharap Pemerintah Kabupaten Sumedang terus memberikan dukungan agar kompetisi serupa dapat berkembang hingga kembali menghadirkan kejuaraan tingkat nasional, seperti yang pernah digelar di kawasan Kiara Payung beberapa tahun lalu.
Sementara itu, Enjang Supriadi menyampaikan apresiasi terhadap penyelenggaraan turnamen tersebut. Menurutnya, kegiatan semacam ini mampu menjadi ruang pembinaan karakter sekaligus melestarikan olahraga tradisional di kalangan pelajar.
Ia menilai Arena Pacuan Kuda Sumedang merupakan lokasi yang tepat karena memiliki area terbuka yang luas dan jauh dari kabel listrik maupun lalu lintas kendaraan, sehingga lebih aman bagi peserta.




