KITAINDONESIASATU.COM – Pemerintah China menyoroti meningkatnya paham sayap kanan dan neo-militerisme di Jepang setelah insiden penyusupan ke kompleks Kedutaan Besar China di Tokyo.
Peristiwa yang terjadi pada Selasa pagi itu melibatkan seorang pria bersenjata tajam yang berhasil masuk ke area diplomatik sebelum akhirnya diamankan.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menyatakan bahwa kejadian tersebut mencerminkan risiko serius dari berkembangnya ideologi ekstrem di Jepang.
Ia juga menilai insiden ini memperlihatkan lemahnya tanggung jawab pemerintah Jepang dalam menjamin keamanan fasilitas diplomatik.
Insiden Picu Ketegangan Hubungan China-Jepang
Menurut keterangan resmi, pelaku diketahui merupakan anggota Pasukan Bela Diri Jepang berpangkat letnan dua.
Ia memasuki kompleks kedutaan di Distrik Minato, Tokyo, dengan memanjat tembok sambil membawa pisau sepanjang 18 sentimeter.
Tidak ada korban luka dalam kejadian tersebut, namun pihak China menilai tindakan itu sebagai ancaman serius terhadap keselamatan staf diplomatik.
China telah menyampaikan protes resmi kepada Jepang melalui jalur diplomatik, baik di Beijing maupun Tokyo. Pemerintah China mendesak agar penyelidikan dilakukan secara menyeluruh serta pelaku diproses hukum sesuai ketentuan yang berlaku.
Insiden ini semakin memperkeruh hubungan kedua negara yang sebelumnya telah memanas.
Ketegangan meningkat sejak pernyataan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, terkait kemungkinan dukungan Jepang terhadap Taiwan jika terjadi konflik dengan China.
Seiring meningkatnya friksi tersebut, China juga telah mengambil sejumlah langkah balasan, mulai dari pembatasan impor produk laut Jepang hingga imbauan kepada warganya untuk tidak bepergian ke negara tersebut.(*)


