KITAINDONESIASATU.COM – Indonesia telah mendaftarkan untuk bergabung dengan BRICS, dengan menyampaikan surat permohonan keanggotaan secara resmi. Surat ini dibawa Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, saat menghadiri KTT BRICS+ di Kazan beberapa hari yang lalu.
Indonesia menyatakan keinginannya untuk menjalin kerja sama erat dengan negara-negara anggota BRICS dan negara-negara Global South lainnya.
Apa sih BRICS itu ?
BRICS adalah aliansi ekonomi yang beranggotakan negara-negara berkembang yang dibentuk oleh Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan.
Nama BRICS diambil dari huruf depan masing-masing negara anggota dan bertujuan untuk memfasilitasi kerja sama ekonomi antarnegara berkembang guna meningkatkan daya saing ekonomi mereka dengan negara-negara maju.
Saat ini, ekonomi dunia didominasi oleh negara-negara maju dari Eropa, Amerika, dan beberapa dari Asia.
Pada awalnya, aliansi ini hanya terdiri dari Brasil, Rusia, India, dan China dan dikenal dengan nama BRIC. Konsep ini diperkenalkan oleh ekonom Goldman Sachs, Jim O’Neill, pada 2001 dalam sebuah laporan yang memprediksi bahwa keempat negara tersebut akan tumbuh pesat dan dapat bersaing dengan negara-negara G7. Pada 2009, Presiden Rusia Vladimir Putin mengundang ketiga negara lainnya untuk bertemu dalam upaya merealisasikan prediksi O’Neill, dan hasilnya aliansi BRIC resmi terbentuk. Setahun kemudian, pada 2010, Afrika Selatan bergabung atas inisiatif China, sehingga aliansi ini berubah nama menjadi BRICS.
Pada Januari 2023, BRICS memperluas keanggotaannya dengan memasukkan enam negara baru, yaitu Arab Saudi, Ethiopia, Iran, Uni Emirat Arab, Mesir, dan Republik Demokratik Kongo (DRC). Ketertarikan negara-negara ini untuk bergabung telah lama ada, terutama untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS dalam kegiatan ekonomi mereka dan mendapat manfaat ekonomi dari kerja sama antarnegara BRICS. Hingga kini, ada sekitar 30 negara lain yang menyatakan minat bergabung, termasuk Indonesia, sebagaimana diumumkan oleh Presiden Rusia Vladimir Putin.
BRICS memiliki sejumlah fokus program untuk mencapai tujuan bersama, antara lain mengurangi ketergantungan pada dolar AS, memperkuat koordinasi kebijakan ekonomi antarnegara anggota, menciptakan sistem keuangan alternatif, dan memperluas pengaruh ekonomi global.
Salah satu rencana jangka panjangnya adalah membuat mata uang bersama untuk mendukung transaksi perdagangan antarnegara anggota. Namun, rencana ini disambut dengan skeptis oleh para pengamat karena kompleksitas koordinasi yang diperlukan dan tantangan dalam menggantikan dominasi dolar AS.

