KITAINDONESIASATU.COM – Anggota Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI, Selly Andriany Gantina, mengusulkan agar Badan Penyelenggara (BP) Haji membentuk lembaga pendidikan dan pelatihan (diklat) khusus bagi petugas haji. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas layanan terhadap jamaah secara optimal, khususnya menjelang penyelenggaraan ibadah haji tahun 2026.
Dalam keterangannya, Selasa, 10 Juni 2025, Selly menekankan pentingnya pelatihan komprehensif sebagai bagian dari evaluasi penyelenggaraan haji 2025 yang dinilai belum berjalan maksimal. Ia menilai bahwa keberadaan diklat akan menjadi langkah strategis dalam meningkatkan profesionalisme petugas haji ke depan.
“Ini catatan penting. Tahun 2026, penyelenggaraan haji akan berada di bawah Badan Penyelenggara Haji. Oleh karena itu, harus ada standar pelayanan minimum yang lebih ketat dan profesional,” jelasnya.
Berdasarkan hasil pengawasannya, Selly menemukan adanya sejumlah petugas yang tidak menjalankan tugas secara optimal selama pelaksanaan haji 2025. Menurutnya, banyak petugas justru lebih fokus pada pelaksanaan ibadah pribadi ketimbang menjalankan fungsi pelayanan kepada jamaah.
“Banyak petugas yang menjalankan tugas hanya sebagai aji mumpung. Mereka ke Saudi untuk berhaji, bukan fokus melayani jemaah. Padahal, tugas mereka sangat penting,” ujar dia.
Ia menyebutkan bahwa salah satu penyebab utamanya adalah pelatihan yang masih kurang memadai. Banyak petugas hanya mengikuti pelatihan singkat selama tiga hingga lima hari tanpa pemahaman lapangan yang mendalam. Bahkan, ada petugas yang baru tiba di Arab Saudi setelah jamaah lebih dulu sampai.
Selain itu, Selly menyoroti minimnya kompetensi dasar dari sejumlah petugas, seperti kemampuan berbahasa Arab, pemahaman teknis lapangan, serta kedisiplinan dalam waktu dan lokasi kerja. Untuk mengatasi hal ini, ia menyarankan pemanfaatan teknologi seperti geo-tagging dan aplikasi pelaporan berkala guna memantau kinerja petugas secara real-time.
Selly menegaskan bahwa kualitas pelayanan petugas sangat berpengaruh terhadap keselamatan dan kenyamanan jamaah. Ia menyoroti bahwa meningkatnya angka kematian jamaah tahun ini menjadi indikator serius yang mencerminkan kegagalan dalam penyelenggaraan haji. (*)



