Selain modifikasi, BBWS CimanCis juga mengembangkan alat khusus yang dirancang sesuai dengan metode IPA.
Alat ini menggunakan tenaga listrik dengan aki dan charger, yang menjadikannya lebih hemat energi. Biaya pembuatan alat baru diperkirakan sekitar Rp10 juta per unit.
Dwi Agus menambahkan bahwa inovasi ini bertujuan untuk mendukung petani pemilik lahan maupun petani penggarap agar lebih produktif. Dengan dukungan dari pemerintah, alat ini berpotensi dikembangkan secara luas untuk kelompok tani.
Keunggulan utama dari metode IPA ini adalah penghematan biaya produksi hingga 40 persen. Dengan teknologi yang lebih efisien, petani dapat meningkatkan hasil panen tanpa harus menguras sumber daya air dan energi.
“Kami berharap inovasi ini menjadi solusi nyata bagi para petani di tengah perubahan iklim dan semakin terbatasnya pasokan air,” tutup Dwi Agus.***

