KITAINDONESIASATU.COM – Banjir yang terjadi di wilayah Kabupaten dan Kota Mojokerto semakin parah, khususnya kawasan yang berdekatan dengan Sungai Afvour Jombok ini.
Salah satunya Desa Tempuran, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto sejak Senin (10/12/2024) hingga Rabu (11/12/2024) semakin parah situasinya.
Begitu juga dengan luapan aliran sungai Sipon Watudakon juga meluap dan menggenangi Desa Mojoranu dan Desa Ngingasremyong, Kecamatan Sooko meningkat.
Ketinggian air di Desa Mojoranu dan Ngingasrembyong rata-rata sekitar mencapai 50 cm atau selutut orang dewasa.
Sejauh ini sebanyak 3.275 warga sudah terdampak banjir, dengan rincian sekitar 1.075 warga di Desa Ngingasrembyong, Mojoranu (400 jiwa), dan Desa Tempuran (1.800 jiwa).
Pemerintah membuat satu posko pengungsian, kesehatan dan dapur umum di Balai Desa Ngingasrembyong, namun banyak warga yang mengungsi ke rumah keluarganya yang tidak terdampak banjir.
Menurut catatan banjir yang melanda sejumlah desa di wilayah Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto sudah 5 hari belum juga surut.
Petugas puskesmas pun turun tangan menerobos air banjir membantu pemeriksaan dan pemberian vitamin kepada warga terdampak.
Salah satunya petugas Puskesmas Gedeg dengan menaiki perahu berkeliling ke rumah warga yang kebanjiran, mereka menerobos banjir menggunakan perahu.
Begitu ada warga, petugas berhenti di depan rumah, lalu mereka langsung memeriksa warga yang terdampak banjir.
Di sisi lain petugas dari Pemkot Mojokerto dan warga juga memelakukan pembersihan sungai, seperti membersihkan sampah dan tanaman enceng gondok yang menutup sungai.

Sementara banjir yang merendam di dua dusun Desa Tempuran, Sooko hingga, Rabu (11/12/2024) semakin parah, dengan naiknya ketinggian air mencapat 1,5 meter.
Kini petugas SAR dan relawan melakukan evakuasi warga untuk mengungsi dari rumah mereka masing-masing.
Warga terdampak banjir secara bertahap mereka meninggalkan rumah mereka sambil membawa harta benda berharga mereka, seperti sepeda motor dan surat berharga lainnya.
Sementara yang warga yang sebelumnya sudah mengungsi, tetap pulang pergi dari pengungsian ke rumah mereka dengan menggunakan perahu karet ataupun berjalan kaki.
Kini aktivitas di Desa Tempuran praktis sudah lumpun, hampir semua pemukiman penduduk, fasilitas umum, masjid, makam dan kantor pemerintahan semuanya digenangi air.
Menurut penuturan warga banjir luapan Sungai Avour Watudakon yang terjadi ini, sudah mencapai ketinggian 1 meter, sementara listrik di sekitar wilayah itu padam.
Kini sebagian besar warga mulai meninggalkan rumah mereka dan mengungsi ke posko maupun ke rumah kerabat terdekat mereka yang aman dari banjir.
Sebelumnya banjir yang terjadi di dua dusun Desa Tempuran sejak Sabtu (7/12/2024) pekan lalu, namun banjir terus meluas dan diperkirakan merendam lebih dari 470 rumah, fasilitas umum dan persawahan. **


