KITAINDONESIASATU.COM – Ratusan mahasiswa dan aktivis politik di Bangladesh, bersenjatakan tongkat bambu, batang besi, dan pipa, menyerang pendukung Sheikh Hasina, mantan perdana menteri yang baru saja digulingkan.
Para pendukung Hasina dicegah masuk ke rumah yang kini menjadi Museum Peringatan Bangabandhu di Dhaka.
Rumah tersebut, yang terletak di daerah Dhanmondi, dulunya milik Mujibur Rahman, ayah Hasina, pemimpin kemerdekaan Bangladesh yang dibunuh dalam kudeta militer pada 15 Agustus 1975.
Pada Kamis, 15 Agustus 2024, Hasina meminta para pendukungnya untuk memberi penghormatan di museum tersebut. Ini berkaitan dengan peringatan kematian Rahman.
Namun, mereka mendapat halangan dari pengunjuk rasa dan menganiaya pendukung Hasina, merampas telepon, dan memeriksa identitas pengunjung.
Para demonstran, yang dipimpin oleh Sarjis Alam, menggelar unjuk rasa di berbagai tempat, termasuk di daerah Shahbagh.
Mereka menuntut persidangan Hasina atas dugaan pembunuhan dalam kekerasan yang telah berlangsung selama berminggu-minggu.
Kekacauan ini terjadi setelah demonstrasi antipemerintah pada awal bulan, yang berujung pada pembakaran museum dan pemecatan Hasina dari jabatannya setelah 15 tahun berkuasa.
Situasi di Dhaka pada hari Kamis menjadi semakin tidak terkendali, dengan kelompok-kelompok bersenjata memukul dan mengusir siapa pun yang mereka curigai sebagai anggota Liga Awami, partai yang dipimpin oleh Hasina.
Pemberontakan ini bermula dari protes terhadap sistem kuota pekerjaan pemerintah pada bulan Juli, yang kemudian berkembang menjadi gerakan besar melawan pemerintahan Hasina yang dinilai semakin otoriter.
Muhammad Yunus, penerima Nobel, kini memimpin pemerintahan sementara setelah tergulingnya Hasina. Ia telah membentuk kabinet baru, yang sebagian besar terdiri dari anggota masyarakat sipil, melalui pembicaraan dengan pemimpin mahasiswa dan militer.- ***
Sumber: The Guardian


