KITAINDONESIASATU.COM-Setelah membongkar pagar laut yang menancap di laut Kampung Bom, Desa Pedaleman, sejumlah warga, nelayan, dan mahasiswa di Desa Pedalaman, Kecamatan Tanara, Kabupaten Serang, mengumpul bambu di Kantor Desa Pedaleman.
Dari pantauan di lapangan terdapat 5 perahu yang digunakan nelayan untuk melakukan pembongkaran pagar laut. Saat tiba di lokasi pembongkaran, mereka turun ke laut dan mencabut satu per satu bambu yang menancap.
Setelah berhasil mencabut beberapa batang bambu, warga kembali ke Kampung Bom dan mengumpulkan bambu-bambu yang berhasil mereka cabut. Selanjutnya, puluhan batang bambu yang berhasil dicabut dibawa ke kantor Desa Pedaleman.
Saepi tokoh pemuda Desa Pedaleman mengatakan, pagar bambu yang menancap di pantai Desa Pedaleman sangat mengganggu aktifitas masyarakat, terutama mereka yang berprofesi sebagai nelayan. “Kalau mau melaut, nelayan susahnya setengah mati. Mereka harus menempuh jarak yang lebih jauh karena laut dipagari,” katanya, kemarin.
Saepi mengapresiasi pihak yang ikut melakukan pencabutan pagar laut di Desa Pedaleman, karena upaya ini benar-benar sangat membantu nelayan di Desa Pedaleman. “Siapapun yang terlibat dalam pemagaran laut, segera meminta maaf kepada masyarakat karena sudah menyulitkan nelayan untuk melaut,” ujarnya.
Untuk itu, Saepi berharap kepada pemerintah dan pihak terkait untuk ikut serta dalam melakukan pencabutan pagar bambu yang masih banyak terpasang di Desa Pedalaman. “Semoga banyak pihak yang membantu pembongkaran,” ujarnya.
Saepi mengaku tidak dapat melakukan pencabutan secara mandiri dan membutuhkan bantuan dari banyak pihak. Ia bersama warga dan nelayan membawa bambu-bambu yang telah berhasil dicabut ke Balai Desa Pedaleman untuk meminta penjelasan. “Pagar babu yang dicabut sekitar 50 meteran, bambunya kita bawa ke kantor Desa Pedaleman supatya mereka melihat kalu kita mencabut sendiri sekalian minta penjelasan,” ujarnya.
Sesampanya di kantor desa, tidak ada satupun perangkat desa, apalagi kepala desa yang menemui warga. Bambu pun dibiarkan menumpuk di halaman kantor desa sebagai bentuk protes warga.



