Peristiwa tersebut terjadi pada Kamis (29/1) di Kampung Cisaninten, Desa Cisewu.
BPBD Garut memastikan tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam insiden bangunan sekolah ambruk tersebut, meski dampaknya cukup signifikan terhadap aktivitas pendidikan akibat cuaca ekstrem Garut dan runtuhnya atap sekolah ambruk di Cisewu Garut.
Akibat ambruknya atap, tiga ruang kelas tidak dapat digunakan. Kondisi ini membuat kegiatan belajar mengajar harus disesuaikan.
BPBD Garut menilai langkah penyesuaian ini penting agar keselamatan siswa tetap terjaga pascakejadian bangunan sekolah ambruk akibat cuaca ekstrem Garut.
Sebanyak 110 siswa SMKN 11 Garut sementara mengikuti pembelajaran dengan sistem kelas gabungan.
Kebijakan ini diterapkan sebagai solusi jangka pendek setelah bangunan sekolah ambruk, sembari menunggu tindak lanjut perbaikan dampak cuaca ekstrem Garut dan insiden atap sekolah ambruk di Cisewu Garut.



