News

AHY Soroti Pertimbangan Utang dan Manfaat Wilayah dalam Rencana Kereta Cepat Jakarta-Surabaya

×

AHY Soroti Pertimbangan Utang dan Manfaat Wilayah dalam Rencana Kereta Cepat Jakarta-Surabaya

Sebarkan artikel ini
AHY Soroti Pertimbangan Utang dan Manfaat Wilayah dalam Rencana Kereta Cepat Jakarta-Surabaya
AHY Soroti Pertimbangan Utang dan Manfaat Wilayah dalam Rencana Kereta Cepat Jakarta-Surabaya

KITAINDONESIASATU.COM – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menyampaikan sejumlah pertimbangan yang perlu diperhatikan jika proyek kereta cepat Jakarta-Surabaya direalisasikan, termasuk soal utang negara.

Belakangan, proyek kereta cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh ramai dibicarakan, terutama terkait rencana rute baru menuju Surabaya. Proyek KCJB sendiri membebani negara hingga Rp116 triliun, sehingga AHY menilai realisasi rute Jakarta-Surabaya memerlukan pendekatan hati-hati.

“Di satu sisi kita ingin konektivitas secara signifikan, karena bisa dibayangkan kalau Jakarta-Surabaya bisa ditempuh 3 jam saja, maka signifikan dari sisi travel time, waktu tempuh,” ungkap AHY. Ia menambahkan, “Saya membayangkan kalau masih kuliah di Surabaya, bisa setiap hari pulang pergi 3 jam sambil ngerjain paper atau ngerjain tugas atau bisa meeting terus balik lagi.”

Selain utang, AHY menekankan pentingnya mempertimbangkan pemerataan pembangunan wilayah.

“Kalau kita fokus ke sana saja maksudnya rute Surabaya, tentu seperti tidak sensitif terhadap kebutuhan pemerataan pembangunan wilayah,” kata AHY. Ia menambahkan, “Kita tidak bisa hanya fokus pada satu hal, tapi kita juga selalu dihadapkan pada keterbatasan anggaran, tanpa harus mengesampingkan pemerataan, kita harus hitung dengan baik.”

AHY juga menekankan bahwa jalur kereta harus memberikan manfaat nyata bagi daerah transit.

“Kawasan-kawasan transit itu harus menjadi nilai tambah yang juga bisa mendukung stabilitas pembiayaan dengan pengembangan konsep TOD (Transit Oriented Development), dengan pengembangan kawasan kita bisa menangkap potensi nilai tambah dari tanah atau lahan,” paparnya. Desain pengembangan kawasan transit pun harus dipersiapkan sejak awal.

Selain itu, pemerintah masih mendengarkan masukan dari berbagai pihak dan menghitung dampak proyek secara menyeluruh.

“Jadi, saya ingin menggarisbawahi bahwa saat ini kami terus menghitung, Pemerintah Pusat tentu melibatkan K/L, termasuk dari sisi bisnis tentu kita ingin mendengarkan masukan dari teman-teman Danantara, dari perusahaan-perusahaan yang memang bergerak di situ,” jelas AHY. 

Ia menambahkan, “Dari sisi pengembangan dan pemerataan wilayah, kita mendengarkan masukan dan ingin menarik kontribusi pemerintah daerah, karena pada akhirnya itu akan mengembangkan ekonomi daerah yang dilewati oleh kereta tersebut.” (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *