News

97 Kasus di Bogor, Pemkot Luncurkan Program ‘My Buddy, Stop Bullying

×

97 Kasus di Bogor, Pemkot Luncurkan Program ‘My Buddy, Stop Bullying

Sebarkan artikel ini
bully
Ratusan siswa SMP Negeri 8 Kota Bogor antusias mengikuti sosialisasi anti-bullying yang digagas Pemkot Bogor bersama Satpol PP dan Yayasan Rumah Kedua. (KIS/ist)

KITAINDONESIASATU.COM- Angka kasus perundungan di Kota Bogor kian mengkhawatirkan. Sepanjang tahun 2025, sedikitnya tercatat 97 kasus bullying menimpa pelajar. Situasi ini mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor bersama Satpol PP dan Yayasan Rumah Kedua meluncurkan program Satpol PP Sahabat Pelajar bertajuk “My Buddy, Stop Bullying”.

Kick off program digelar di SMP Negeri 8 Kota Bogor, Selasa 9 September 2025, dengan dihadiri langsung Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin. Acara tersebut diikuti sekitar 230 siswa-siswi, para guru, serta beberapa kepala sekolah dari wilayah Kota Bogor.

Menurut Jenal, program ini menjadi salah satu langkah konkret dalam mengimplementasikan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 1 Tahun 2021 tentang Ketertiban Umum (Tibum). Kehadiran Satpol PP di sekolah melalui program ini diharapkan mampu memberikan edukasi serta pendampingan agar kasus bullying tidak terus berulang.

“Treatment anti-bullying memang sudah banyak dilakukan. Hari ini pun Satpol PP bersama Yayasan Rumah Kedua me-launching program anti-bullying yang merupakan implementasi dari Perda Nomor 1 Tahun 2021 tentang Ketertiban Umum,” ujar Jenal.

Ia menambahkan, banyak kasus perundungan berawal dari ucapan atau bahasa verbal. Karena itu, keluarga sekolah diminta untuk lebih waspada dan saling menjaga.

“Ada 97 kasus di tahun 2025. Tentu ini akan kita identifikasi, apakah verbal atau ada hal-hal lain antarteman. Ada juga yang kasusnya berasal dari keluarga atau guru. Karena itu edukasi juga harus fokus,” tegasnya.

Jenal menekankan, dampak bullying tidak bisa dianggap sepele karena dapat merusak mental korban dan menghambat penerimaan kurikulum saat mengikuti proses belajar mengajar.

Sementara itu, Ketua Yayasan Rumah Kedua, Dewi Puspasari, mengungkapkan bahwa tren perilaku bullying mengalami perubahan dari tahun ke tahun. Saat ini, kasus perundungan justru banyak ditemukan di lingkungan pendidikan, bahkan sejak tingkat sekolah dasar.

“Kalau kita lihat, enam tahun terakhir ini, walaupun kita sudah gencar melakukan sosialisasi, angkanya selalu naik 15 persen. Yang mengkhawatirkan adalah kasus-kasus yang tidak terdata,” ungkap Dewi.

Ia juga menyoroti fakta bahwa perilaku perundungan tidak hanya dilakukan oleh para siswa, tetapi juga dapat melibatkan tenaga pendidik. Kondisi itu, menurutnya, berpotensi mencoreng nama baik sekolah maupun Kota Bogor.

“Kami menyediakan hotline center melalui WhatsApp agar siswa bisa berani bicara. Harus begitu, karena sebagian besar kasus biasanya berawal dari bullying,” pungkas Dewi. (Nicko)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *